Ketika Syukur Menjadi Jalan Pulang bagi Kegelisahan Hidup

Artikel28 Dilihat

Oleh: Dwi Hartoyo

Sabtu, 10 Januari 2026

Dalam perjalanan hidup, kegelisahan kerap datang tanpa diundang. Hati terasa galau, pikiran dipenuhi masalah, seolah ketenangan semakin jauh dari genggaman. Jika direnungi lebih dalam, sering kali kegundahan itu bukan karena hidup yang kekurangan, melainkan karena keinginan yang tak pernah merasa cukup, sementara keperluan sejatinya tak sebanyak yang kita bayangkan.

Kita telah dianugerahi rumah yang layak dan nyaman. Namun, sering kali rumah itu hanya menjadi tempat beristirahat jasmani, bukan ruang yang menenangkan batin tempat nilai spiritual dan doa seharusnya tumbuh, mempererat hubungan manusia dengan Sang Pencipta sesuai keyakinan masing-masing.

Kita juga telah ditemani pasangan hidup selama bertahun-tahun, setia dalam suka dan duka. Sayangnya, kehadiran yang penuh pengorbanan itu kadang luput dari penghargaan, seakan tak lagi memiliki makna di hadapan kita. Begitu pula dengan anak-anak, anugerah terindah yang seharusnya menyejukkan pandangan dan hati, namun kerap tertutup oleh tuntutan dunia yang tak ada habisnya.

Akhirnya, hidup terasa penuh kegelisahan, seolah masalah datang bertubi-tubi tanpa jeda. Padahal, barangkali yang berkurang bukanlah rezeki, melainkan rasa syukur dalam diri.

Di sinilah pentingnya menumbuhkan kembali rasa syukur lagi, lagi, dan lagi kepada Sang Pencipta, Allah Azza wa Jalla, dengan cara terus meningkatkan ketakwaan dan kualitas diri. Nilai syukur ini sesungguhnya bersifat universal, diajarkan oleh semua agama dan kepercayaan: mengajak manusia untuk hidup lebih sadar, lebih rendah hati, dan lebih menghargai apa yang telah dimiliki.

Dengan syukur, keinginan dapat dikendalikan, hati menjadi lebih lapang, dan hidup terasa lebih bermakna. Dari sanalah ketenangan lahir, bukan dari banyaknya yang kita kejar, tetapi dari kemampuan kita mensyukuri apa yang telah dianugerahkan.

Syukur bukan hanya ucapan, melainkan sikap hidup. Dan dari sikap itulah, kegelisahan perlahan menemukan jalan pulang menuju kedamaian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *