Opini Publik
Dwi Hartoyo
Kamis, 19 Februari 2026
Ketika masyarakat mulai mengeluhkan sebuah kebijakan, sesungguhnya itu bukan sekadar suara sumbang yang harus diabaikan. Itu adalah tanda bahwa ada bagian yang perlu dibenahi, ada kebijakan yang mungkin belum menyentuh kebutuhan nyata rakyat. Keluhan bukanlah bentuk perlawanan, melainkan cermin yang memantulkan keadaan sebenarnya di lapangan.
Di situlah letak kebijaksanaan seorang pemimpin diuji. Apakah ia mampu melihat suara rakyat sebagai masukan yang berharga, atau justru menutup diri dengan keyakinan bahwa keputusan yang telah dibuat tidak boleh diganggu gugat. Kebijakan yang baik bukanlah yang dipertahankan mati-matian, melainkan yang terus disempurnakan demi kepentingan masyarakat.
Evaluasi bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kedewasaan dalam memimpin. Mengkaji ulang sebuah program bukan berarti menentang kebijakan itu sendiri, melainkan memastikan bahwa tujuan mulianya benar-benar sampai kepada rakyat yang membutuhkan. Sebab, ukuran keberhasilan sebuah kebijakan bukan terletak pada seberapa megah konsepnya, melainkan seberapa besar manfaatnya dirasakan masyarakat.
Jangan sampai yang dipertahankan justru kepentingan sempit, sementara suara rakyat hanya menjadi gema yang tak pernah didengar. Negara ini dibangun bukan untuk segelintir orang, tetapi untuk seluruh rakyat yang berharap keadilan dan kesejahteraan.
Dalam perjalanan kekuasaan, sering kali pemimpin tanpa sadar terjebak pada sikap yang kaku: enggan dikritik, menutup telinga dari masukan, dan merasa paling benar. Padahal, sikap seperti itu justru menjauhkan pemimpin dari rakyatnya sendiri. Pemimpin sejati bukanlah mereka yang selalu benar, melainkan mereka yang berani mengakui kekurangan dan memperbaikinya.
Karena pada hakikatnya, pemimpin bukanlah penguasa yang harus ditakuti, melainkan pelayan rakyat yang siap mengabdi. Tugasnya bukan sekadar memerintah, tetapi mendengar, menerima, dan melayani dengan hati yang tulus.
Jika suara rakyat diperlakukan sebagai cahaya yang menerangi arah kebijakan, maka negara ini akan berjalan dengan lebih adil, lebih bijak, dan lebih manusiawi. Sebab kekuasaan yang paling kuat bukanlah yang memaksa, melainkan yang mampu merangkul hati rakyatnya.







