Metro — Kerusakan parah ruas jalan Tegineneng menuju Kota Metro bukan sekadar keluhan biasa. Hasil penelusuran di lapangan menunjukkan lubang-lubang besar menganga di berbagai titik, mulai dari Jalan Raya Trimurjo hingga pintu masuk Kota Metro. Kondisi semakin berbahaya saat musim hujan dan pada jam-jam subuh ketika aktivitas warga sudah dimulai.
Waris, seorang pedagang yang setiap hari berbelanja ke pasar Metro dan berangkat dari rumah sekitar pukul 04.00 WIB, mengaku merasakan langsung ancaman di jalur tersebut. Sebagai pengguna jalan rutin, ia menilai kerusakan ini sudah terlalu lama dibiarkan.
“Setiap hari saya lewat sebelum subuh. Jalan gelap, banyak lubang di kiri, kanan, bahkan di tengah. Kalau tidak hafal betul titiknya, bisa jatuh. Apalagi kalau hujan, lubangnya tertutup air,” kata Waris. Selasa, 24/02/2026.
Investigasi di lapangan membenarkan pernyataan itu. Di tikungan Jalan Karang Bolong, Kelurahan Simbarwaringin, genangan air selalu muncul setiap musim hujan. Drainase di lokasi tersebut dilaporkan buntu dan tidak berfungsi hampir tujuh tahun tanpa penanganan serius dari pemerintah kecamatan maupun kabupaten. Air yang menggenang bukan hanya menghambat arus kendaraan, tetapi juga menyamarkan lubang-lubang besar yang siap menjebak pengendara.
Tak jauh dari sana, sekitar ±50 meter dari Tugu Perjuangan di Kampung Tempuran 12 A, terdapat lubang besar tepat di tengah badan jalan. Posisi lubang yang berada di jalur utama membuat pengendara sulit menghindar, terlebih dalam kondisi gelap karena banyak lampu penerangan jalan umum yang mati.
Waris menegaskan, kondisi ini sangat membahayakan pedagang dan warga yang memulai aktivitas sejak dini hari.
“Kami ini cari nafkah, bukan mau cari celaka. Harusnya pemerintah lebih peka. Jangan tunggu ada korban dulu,” tegasnya.
Situasi jalan rusak, drainase buntu bertahun-tahun, dan penerangan yang mati menunjukkan lemahnya pengawasan serta minimnya respons terhadap kebutuhan dasar masyarakat. Warga kini mendesak Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, untuk turun langsung dan memastikan perbaikan menyeluruh dilakukan tanpa tambal sulam yang hanya bersifat sementara.
Bagi masyarakat kecil seperti Waris, jalan ini bukan sekadar infrastruktur, melainkan urat nadi ekonomi. Pembiaran yang terus berulang hanya akan memperpanjang daftar risiko kecelakaan dan memperlihatkan abainya perhatian terhadap keselamatan publik.







