Lampung Tengah — Rapat Anggota Tahunan (RAT) Kelompok Tani Tahun Kerja 2025 yang digelar di kediaman Ketua Kelompok Tani RW 05, Kelurahan Trimurjo, Kecamatan Trimurjo, Kabupaten Lampung Tengah, Minggu (25/01/2026), berlangsung dalam suasana serius dan penuh kritik. Ketidakhadiran Lurah Trimurjo menjadi sorotan tajam dan memicu kekecewaan mendalam dari para pengurus dan anggota kelompok tani.
Ketua Kelompok Tani, Dwi Hartoyo, secara terbuka menegaskan bahwa persoalan klasik yang terus menghantui pabrik kelompok tani adalah maraknya praktik giling padi di pabrik berjalan (gerandong). Menurutnya, hal ini secara langsung menggerus pendapatan bawon pabrik yang seharusnya menjadi penopang utama kegiatan sosial masyarakat.
“Saya tekankan kepada seluruh andil dan anggota, termasuk arisan masjid, agar menggiling padi di pabrik kelompok tani. Jangan justru menjadi pelopor mengundang gerandong. Kalau bawon surut, nilai sosial juga ikut mati,” tegas Dwi Hartoyo di hadapan peserta RAT.
Ia mengajak seluruh masyarakat untuk kembali menggiling padi di pabrik kelompok tani. Menurutnya, semakin besar pendapatan bawon, maka semakin luas pula manfaat sosial yang bisa dirasakan masyarakat, terutama di RW 05 dan RW 06.
Namun, kekecewaan memuncak saat diketahui Lurah Trimurjo yang telah diundang secara resmi tidak hadir dalam forum penting tersebut. Dwi Hartoyo menyatakan sikap kecewanya secara tegas.
“Ini forum rakyat. Ketidakhadiran lurah menunjukkan minimnya kepedulian terhadap denyut persoalan masyarakat.” ujarnya.
Kekecewaan serupa juga disampaikan oleh Armawati, salah satu peserta RAT. Dalam ruang diskusi, ia menegaskan bahwa kehadiran lurah seharusnya menjadi bentuk tanggung jawab moral dan administratif terhadap peningkatan pendapatan bawon kelompok tani.
“Solusinya jelas, giling di pabrik. Tapi tanpa dukungan dan perhatian pemimpin wilayah, semua jadi setengah jalan,” tandasnya.
Di tempat yang sama, Ketua RW 05 mengungkapkan bahwa pihaknya telah berupaya menghubungi Lurah Trimurjo, Andri Gunarsa, SE, melalui sambungan telepon namun tidak diangkat. Upaya dilanjutkan melalui pesan WhatsApp yang baru dibalas beberapa jam kemudian. Dalam pesannya, lurah menyampaikan permohonan maaf karena tidak dapat hadir lantaran menghadiri pengajian di Kampung Liman Benawi, serta menyatakan dukungannya terhadap keberadaan kelompok tani di RW 05 dan RW 06.
Menanggapi hal tersebut, Dwi Hartoyo menegaskan bahwa dukungan lisan tidaklah cukup. Ia menuntut kehadiran nyata dan keterlibatan langsung pemimpin wilayah.
“Saya ingin lurah paham betul mengapa bawon itu penting. Dari bawon itulah dana sosial hidup. Dari situ masyarakat saling menguatkan. Pemimpin harus turun, bukan menghindar,” tegasnya.
Lebih keras lagi, Dwi Hartoyo mengingatkan agar lurah tidak hanya bekerja dari balik meja kantor.
“Jangan lagi menghindar dari undangan masyarakat. Jangan hanya duduk di kantor. Selama menjabat, hampir tak pernah menjalin silaturahmi dengan tokoh masyarakat. Kalau kerjanya hanya laporan asal bapak senang, wajar kalau tidak paham persoalan rakyat,” kecamnya.
Kini, masyarakat RW 05 dan RW 06 menanti pembuktian. Apakah dukungan yang disampaikan lurah melalui pesan singkat benar-benar akan direalisasikan, atau sekadar menjadi ucapan manis tanpa tindakan.
Kekecewaan yang mengemuka dalam RAT tersebut diharapkan dapat segera diobati dengan kehadiran, kepedulian, dan tindakan nyata dari Lurah Trimurjo, mengingat besarnya manfaat sosial yang bergantung pada keberlangsungan pabrik kelompok tani.







