Mimpi Jadi TNI Terasa Mahal: Ketika Anak Bangsa Memilih Seragam Asing Demi Kesempatan yang Adil

Artikel26 Dilihat

 

Menjadi tentara adalah panggilan kehormatan. Di Indonesia, seragam TNI masih menjadi simbol pengabdian, disiplin, dan nasionalisme. Namun di balik kemuliaan itu, tersimpan realitas pahit yang kerap dibicarakan di ruang-ruang publik: jalan menuju dunia militer tak selalu ditentukan oleh kemampuan, melainkan juga oleh isi dompet. Dikutip dari unggahan Facebook Sevelinkey Fanpage yang telah tayang dua hari lalu. Rabu, 28/01/2026.

Proses seleksi yang panjang dan ketat seharusnya menjadi ajang pembuktian fisik, mental, dan intelektual. Namun di tengah masyarakat, beredar anggapan kuat bahwa untuk bisa lolos menjadi tentara di Indonesia dibutuhkan “biaya tambahan” yang nilainya fantastis, bahkan disebut-sebut mencapai ratusan juta rupiah. Terlepas dari benar atau tidaknya angka tersebut, persepsi ini telah menjadi racun yang mematikan harapan anak-anak muda dari keluarga sederhana.

Syifa adalah satu dari sekian banyak pemuda yang tumbuh dengan mimpi mengabdi pada negeri lewat jalur militer. Ia berlatih, menjaga fisik, dan menyiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Namun cerita kegagalan yang ia dengar bukan karena kalah mampu, melainkan kalah modal dan koneksi membuatnya berpikir ulang. Dengan keterbatasan ekonomi keluarga, Syifa dihadapkan pada pertanyaan pahit: apakah mimpi ini hanya milik mereka yang beruang?

Di tengah kebuntuan itu, Syifa menemukan alternatif yang ironis sekaligus menampar: militer Amerika Serikat. Sistem rekrutmen yang transparan, jalur seleksi yang jelas, serta penilaian berbasis kemampuan membuka peluang yang tak ia temukan di negerinya sendiri. Di sana, latar belakang ekonomi bukan penghalang utama. Negara justru menjanjikan pendidikan, jaminan kesejahteraan, dan masa depan karier yang terukur bagi mereka yang lolos.

Keputusan Syifa memilih menjadi tentara Amerika bukan bentuk pengkhianatan terhadap Indonesia. Justru ini adalah potret kegagalan sistem di rumah sendiri. Ketika pengabdian terasa mahal dan kesempatan terasa sempit, maka anak bangsa akan mencari ruang lain untuk bertumbuh dan bertarung secara adil.

Kisah Syifa adalah cermin kegelisahan generasi muda Indonesia hari ini. Saat mimpi membela tanah air terasa seperti barang mewah, maka dunia luar menjadi pelarian. Bukan karena mereka tak cinta Indonesia, tetapi karena keadilan seharusnya tidak menjadi privilese, melainkan hak setiap anak bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *