Batam, Jum’at 24 April 2026 – Di tengah derasnya gelombang globalisasi dan badai disrupsi yang nyaris menghapus batas-batas identitas, Kota Batam tampil bak mercusuar. Menjadi tuan rumah ajang bersejarah Pantun Tiga Serumpun, kota ini membuktikan: meski zaman berubah, meski jarak memisahkan, ikatan darah, bahasa, dan budaya tidak akan pernah putus.
Lebih dari sekadar acara pertunjukan atau pertemuan biasa, momen ini menjadi bukti nyata bahwa di tengah hiruk-pikuk pembangunan dan kemajuan teknologi, hati masyarakat serumpun tetap berdetak dengan irama yang sama. Sebuah pertemuan yang tidak hanya mempertemukan tokoh dan seniman, tapi menyatukan kembali akar sejarah, warisan, dan jati diri yang telah dirawat turun-temurun.
Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, dengan suara penuh keyakinan dan harapan, menyampaikan pesan yang menyentuh sekaligus menjadi peringatan bagi kita semua. Baginya, budaya Melayu bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan perisai kokoh dan benteng terkuat yang menjaga kita agar tidak terhanyut dan kehilangan arah di tengah derasnya arus perubahan dunia.
“Di saat banyak nilai mulai bergeser, di saat gaya hidup asing perlahan masuk dan menggeser kebiasaan kita, di situlah peran budaya menjadi sangat krusial. Nilai-nilai luhur, adab sopan, kearifan yang terkandung dalam pantun, sastra, dan tradisi adalah jiwa kita. Kalau jiwanya hilang, maka apapun kemajuan yang kita raih akan hampa dan tidak berarti,” tegas Amsakar dengan penuh semangat.
Ajang bersejarah ini lahir dari sinergi indah lintas batas negara, menyatukan tiga lembaga penyiaran kebanggaan bangsa: Radio Republik Indonesia (RRI), Radio Televisyen Malaysia (RTM), dan Radio Televisyen Brunei (RTB). Kolaborasi ini bukan sekadar kerja sama teknis, melainkan janji bersama. Janji untuk terus menjaga, merawat, dan mengangkat warisan leluhur agar tidak hanya dikenal di kawasan, tapi berkibar dan diakui di kancah dunia.
Sebagai kota yang dikenal sebagai pusat ekonomi dan gerbang investasi, Batam kini menorehkan sejarah baru. Kota ini berhasil membuktikan bahwa kemajuan ekonomi dan modernisasi tidak harus mengorbankan identitas budaya. Bahkan sebaliknya, melalui semangat kebersamaan dan saling berbagi, Batam semakin mengukuhkan posisinya sebagai rumah, pusat, dan simpul utama pelestarian serta pengembangan budaya Melayu di kawasan.
Di penghujung sambutannya, kalimat sakral yang telah hidup berabad-abad kembali menggema, menggetarkan hati setiap yang mendengar. Sebuah tekad, harapan, dan sumpah setia kepada warisan nenek moyang:
“TAKKAN MELAYU HILANG DI BUMI.”
Sebuah janji bahwa selama masih ada tanah yang dipijak dan hati yang berdenyut, budaya ini akan terus hidup, dijaga, dan diwariskan untuk anak cucu kita kelak.
(SjR)







