LSM kutuk oknum penertiban yang dinilai tak bermoral dan tak beradab
BATAM – Hasil pertemuan antara perwakilan pedagang korban penertiban dengan Li Claudia Chandra di kantor BP Batam, Rabu (29/4/2026), memunculkan sejumlah komitmen penting sekaligus kecaman atas cara pelaksanaan penggusuran yang dinilai tidak pantas.
Ketua Asosiasi Pedagang Andi menyampaikan bahwa pejabat tersebut berjanji akan turun langsung ke lapangan guna meninjau kondisi lokasi penertiban di depan kawasan industri. “Besok Kamis, 30 April 2026 sekitar pukul 09.00 WIB, Bu Li Claudia akan datang ke lokasi untuk melakukan pengecekan secara langsung,” ujarnya menirukan pernyataan tersebut.
Ia juga menyampaikan janji penyelesaian yang disesuaikan dengan status kepemilikan lahan. “Apabila lokasi itu merupakan aset pemerintah, akan ditata rapi agar bisa dimanfaatkan kembali oleh kami. Kalau ternyata masuk wilayah perusahaan, tetap akan saya upayakan jalan keluarnya. Saya tidak mau rakyat menjadi susah,” lanjutnya menirukan ucapan Li Claudia.
Bahkan, jika lahan terbukti dikuasai pihak swasta, pejabat itu berjanji akan memediasi langsung. “Saya akan panggil pihak perusahaan, dalam hal ini PT Sigma Aurora Properti. Selama lahannya belum dibangun, akan diminta agar pedagang bisa kembali berjualan seperti sedia kala,” tambah Andi menyampaikan isi pertemuan.
Di sisi lain, Ketua LSM Bahtera DPP Kepri bersama Andi mengeluarkan pernyataan tegas yang mengutuk keras proses penertiban yang telah berlangsung. Mereka menilai ada tindakan oknum yang tidak memiliki rasa moral maupun adab.
“Kami kutuk keras oknum-oknum yang bertindak semena-mena. Penertiban boleh saja dilakukan, tapi tidak boleh sampai menghancurkan sumber penghidupan rakyat kecil tanpa solusi yang jelas,” tegas pernyataan bersama tersebut.
Kecaman ini mempertegas bahwa persoalan yang terjadi tidak hanya menyangkut masalah tata ruang atau peraturan, tetapi juga menyentuh aspek kemanusiaan dan keadilan sosial.
Para pedagang kini menaruh harapan besar agar semua komitmen yang disampaikan tidak berhenti sekadar ucapan. “Kami cuma butuh kepastian dan tempat yang layak untuk cari makan. Jangan sampai ini hanya janji manis yang tidak ada buktinya,” ujar salah satu korban.
Survei lapangan yang dijadwalkan besok dipandang sebagai titik krusial yang akan menentukan masa depan mata pencaharian puluhan keluarga yang terdampak.
(SjR)







