Abdul Sattar Edhi: Sang Ayah Kaum Miskin yang Mengajarkan Dunia Arti Kemanusiaan

Uncategorized47 Dilihat

 

Internasional  —  Di Pakistan, ketika kemiskinan dan penyakit datang bersamaan, banyak orang tidak punya nomor darurat untuk dihubungi.

 

Namun mereka tahu satu nama yang selalu hadir: Edhi. Bukan pejabat, bukan orang kaya, bukan tokoh yang hidup dalam kemewahan melainkan seorang pria sederhana yang memilih jalan hidup paling mulia, yaitu mengabdi sepenuhnya kepada kemanusiaan.

 

Namanya Abdul Sattar Edhi. Ia tidak lahir dalam kemewahan, bahkan memulai hidupnya sebagai pengemis jalanan. Dari keterbatasan itu, ia justru menemukan tujuan hidupnya. Dengan uang seadanya, ia membeli sebuah mobil tua, lalu menggunakannya untuk mengangkut orang-orang sakit yang tak mampu berobat. Mobil itulah yang menjadi cikal bakal salah satu gerakan kemanusiaan terbesar di dunia.

 

Edhi tidak pernah menunggu kaya untuk berbuat baik. Ia memilih bergerak, meski dengan tangan kosong.

 

Ia mendirikan Edhi Foundation, sebuah organisasi kemanusiaan yang lahir dari niat tulus, bukan dari ambisi atau kekuasaan. Seiring waktu, organisasi itu berkembang pesat hingga memiliki armada ambulans terbesar di dunia, lengkap dengan fasilitas kesehatan, rumah penampungan, hingga helikopter penyelamat.

 

Namun, yang membuat Edhi dikenang bukanlah besarnya organisasi yang ia bangun, melainkan besarnya hatinya. Di depan kantor-kantornya, ia meletakkan keranjang bayi dengan tulisan yang menggugah nurani:

“Jangan bunuh bayi ini, letakkan saja di sini, biar saya yang jadi bapaknya”, tulisnya.

Kalimat sederhana itu telah menyelamatkan puluhan ribu nyawa.

 

Lebih dari 20.000 anak terlantar ia selamatkan, ia besarkan, dan ia sekolahkan. Bagi mereka, Edhi bukan sekadar dermawan ia adalah ayah yang tidak pernah meminta imbalan.

 

Meski organisasinya mengelola dana miliaran dan memiliki fasilitas besar, Edhi tetap hidup dalam kesederhanaan. Ia hanya memiliki dua pasang pakaian sepanjang hidupnya. Ia tidur di ruang sempit di belakang kantornya, menolak kenyamanan pribadi demi memastikan setiap rupiah digunakan untuk orang-orang yang membutuhkan.

 

Ia tidak mencari panggung. Ia tidak mengejar pujian. Ia hanya bekerja dalam diam, menolong mereka yang terabaikan.

 

Ketika Abdul Sattar Edhi meninggal dunia, seluruh Pakistan berkabung. Rakyat dari berbagai latar belakang kaya dan miskin, pejabat dan rakyat biasa mengantarkan kepergiannya dengan air mata. Mereka tidak kehilangan seorang tokoh, tetapi kehilangan seorang ayah bagi kaum miskin.

 

Kisah hidup Edhi adalah pengingat bahwa kemanusiaan tidak membutuhkan kekayaan, jabatan, atau kekuasaan. Yang dibutuhkan hanyalah hati yang mau peduli dan tangan yang mau bergerak.

 

Ia membuktikan bahwa satu orang dengan niat tulus dapat mengubah nasib puluhan ribu manusia.

 

Di dunia yang sering dipenuhi ambisi dan kepentingan, nama Abdul Sattar Edhi berdiri sebagai mercusuar harapan bahwa kebaikan, sekecil apa pun, bisa menjadi cahaya bagi banyak kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *