Belajar Menjadi Manusia Yang Mulia

Lampung286 Dilihat

Oleh: Hartoyo

Manusia adalah makhluk paling sempurna yang dianugerahi akal dan hati. Namun dalam dirinya terdapat berbagai sifat dan karakter. Ada yang baik, ada yang buruk, ada yang mulia, bahkan ada pula yang terkadang bertindak layaknya makhluk tanpa pertimbangan akal sehat ketika dikuasai emosi dan ego.

 

Ketika seseorang tidak mampu mengendalikan amarah, hawa nafsu, dan egonya, ia dapat melakukan sesuatu di luar nalar dan kendali. Saat itulah martabat dan kehormatannya bisa runtuh karena perkataan maupun perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

 

Sebaliknya, manusia yang mampu bersabar, menjaga hati, mengendalikan diri, menghormati sesama, serta menyikapi perbedaan pendapat dengan bijaksana akan menjadi pribadi yang dihormati. Ia mampu mengayomi, menjadi suri teladan, memiliki kepedulian sosial yang tinggi, cepat tanggap terhadap keadaan di sekitarnya, tidak kikir dalam berbagi, serta ringan tangan membantu mereka yang membutuhkan.

“Manusia yang baik bukanlah manusia yang tidak pernah marah, tetapi manusia yang mampu mengendalikan amarahnya. Bukan yang selalu benar, tetapi yang mau mendengar dan menghargai orang lain,” ujar Hartoyo kepada media ini, Selasa, 2 Juni 2026.

 

Alam juga mengajarkan banyak pelajaran melalui kehidupan binatang. Ular ahli berpuasa, namun mulutnya berbisa. Anjing cerdas, tetapi suka menjilat. Babi dianggap haram, namun jalannya lurus. Kucing bersih, tetapi suka mencuri ikan. Elang terbang tinggi, namun memangsa yang lemah. Kerbau kuat, tetapi lamban berpikir. Kuda gagah, namun mudah terkejut. Monyet lincah, tetapi gemar usil. Semut rajin, tetapi mudah menyerang sesamanya. Lebah menghasilkan manfaat, namun sengatnya menyakitkan. Merpati dikenal setia, tetapi mudah terjebak umpan. Harimau berwibawa, namun hidup dengan menerkam mangsanya.

 

Dari semua itu, kita belajar bahwa tidak ada makhluk yang seluruhnya buruk, dan tidak ada pula yang seluruhnya baik. Setiap makhluk memiliki kelebihan dan kekurangan. Yang terlihat buruk masih memiliki sisi baik, dan yang terlihat baik tetap memiliki kelemahan.

 

Karena itu, jangan mudah menghakimi seseorang hanya dari satu sisi. Lihatlah dengan hati yang jernih, pahami dengan akal yang sehat, dan nilai dengan kebijaksanaan. Sebab kemuliaan manusia bukan ditentukan oleh seberapa tinggi ia berbicara tentang kebaikan, melainkan seberapa mampu ia mengendalikan dirinya dan memberikan manfaat bagi sesama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *