Di dataran Engku Putri, harapan warga Batam bersemi saat bersimpuh memohon hujan”

Batam30 Dilihat

Batam,  Dataran Engku Putri, alun-alun kota Batam yang menjadi simbol sejarah dan kehidupan sosial masyarakat, pada pagi hari Senin (30/3/2026) menyaksikan momen penuh makna. Di bawah terik matahari yang membuat permukaan aspal terasa membakar, ratusan warga dari berbagai penjuru kota bergabung dengan aparatur pemerintah untuk melaksanakan Salat Istisqa, memanjatkan doa harap agar hujan segera turun dan mengakhiri musim kemarau yang mengganggu ketersediaan air bersih serta meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Nama dataran Engku Putri sendiri diabadikan untuk mengenang jasa Engku Putri Raja Hamidah, putri dari Raja Syahid fi Sabilillah Marhum Teluk Ketapang (Raja Haji) yang dikenal sebagai pahlawan Riau dalam menentang penjajahan VOC/Belanda. Beliau bukan hanya figur kebesaran kerajaan, melainkan juga permaisuri Raja Mahmud Syah Marhum Besar dan tangan kanan Raja Jaafar yang dipertuan muda Riau VI. Sebagai pemegang regalia kerajaan, Engku Putri memiliki peran krusial dalam proses pelantikan sultan, bahkan pernah diberikan Pulau Penyengat sebagai hadiah mas kawin pada tahun 1801-1802 Masehi. Kini, dataran yang dinamai untuknya menjadi simbol perjuangan dan harapan bagi masyarakat Batam, tak hanya sebagai ruang publik namun juga tempat berkumpul dalam berbagai momen penting.

Lokasi dataran yang berada di kawasan Batam Centre, dikelilingi oleh gedung-gedung pemerintahan penting seperti Kantor Wali Kota Batam, Kantor DPRD, Kantor BP Batam, serta fasilitas publik seperti Masjid Raya Batam dan Museum Raja Ali Haji, semakin mempertegas peranannya sebagai jantung kota yang menghubungkan berbagai elemen masyarakat. Tak jarang, dataran ini menjadi tempat untuk acara resmi pemerintah, kegiatan keagamaan, hingga aktivitas rekreasi warga seperti jogging pagi atau berkumpul bersama keluarga setiap akhir pekan. Namun, pada hari ini, suasana yang biasanya ramai dengan tawa dan aktivitas olahraga berubah menjadi khidmat dan penuh harapan.

Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, yang turut hadir dan mengikuti ibadah dengan penuh khusyuk, menyampaikan bahwa pemilihan Dataran Engku Putri sebagai lokasi Salat Istisqa bukan tanpa alasan. “Dataran ini adalah tempat yang memiliki makna sejarah dan spiritual bagi kita semua. Di sinilah kita sering berkumpul untuk merayakan kebahagiaan dan juga menghadapi tantangan bersama. Saat ini, tantangan yang kita hadapi adalah kekeringan yang mengancam kehidupan masyarakat, dan kami berharap melalui doa yang kami panjatkan di tempat yang penuh berkah ini, permintaan kita akan segera dikabulkan,” ujarnya.

Acara yang dipimpin oleh Ustaz Hefri AR sebagai imam dan diisi khutbah oleh Kiai Dhoifi Ibrahim ini juga menjadi momen untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan. Dalam khutbahnya, Kiai Dhoifi menyebutkan bahwa nama Engku Putri sendiri melambangkan sosok yang peduli pada kesejahteraan rakyat dan kelestarian alam. “Beliau adalah figur yang tidak hanya kuat dalam memimpin, tetapi juga penuh kasih sayang terhadap tanah air dan rakyatnya. Mari kita tirukan semangat beliau dengan lebih peduli terhadap lingkungan, mengurangi pemborosan air, dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi merusak alam,” tegasnya.

Berdasarkan data dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Batam, kondisi kekeringan yang terjadi telah menyebabkan kapasitas air di Waduk Sagulung dan Waduk Tanjung Uma hanya mencapai sekitar 40% dari kapasitas maksimalnya. Hal ini berdampak langsung pada pasokan air bersih di beberapa wilayah, bahkan beberapa desa terpaksa menggunakan sumber air alternatif seperti sumur bor atau air kemasan. Selain itu, data dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat bahwa telah ada 7 titik panas yang terdeteksi di berbagai kawasan hutan di Batam, yang jika tidak segera ditangani berpotensi menjadi kebakaran skala besar.

Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah telah melakukan berbagai upaya teknis, antara lain pengoptimalan penggunaan air dari waduk cadangan, perbaikan jaringan saluran air untuk mengurangi pemborosan, serta kerja sama dengan BP Batam untuk membuka akses ke sumber air alternatif. Selain itu, BPBD Batam juga telah menyiapkan tim siaga 24 jam untuk menangani setiap kemungkinan kebakaran yang terjadi.

Kepala Dinas PUPR Batam, Rinaldi Saputra, menjelaskan bahwa pihaknya juga tengah melakukan evaluasi terhadap sistem pasokan air dan mempertimbangkan untuk menerapkan pembatasan pasokan secara bergilir jika kondisi cuaca tidak membaik dalam waktu dekat. “Kami mengimbau seluruh masyarakat untuk menggunakan air secara bijak dan memprioritaskan kebutuhan utama. Setiap tetes air yang kita hemat akan sangat berarti bagi kelangsungan hidup kita semua,” katanya.

Sementara itu, masyarakat yang hadir dalam acara Salat Istisqa mengaku merasa lebih tenang setelah berdoa bersama di Dataran Engku Putri. Siti Nurhaliza, seorang ibu rumah tangga dari Kecamatan Batam Kota, menyampaikan bahwa dataran ini selalu memberikan rasa kebersamaan dan harapan baginya. “Setiap kali ada acara besar di sini, saya selalu merasa bagian dari keluarga besar Batam. Hari ini, saya berharap doa kita semua akan segera dikabulkan agar air kembali melimpah dan kita bisa hidup dengan tenang lagi,” ujarnya dengan mata yang penuh harap.

Sebagai penutup acara, seluruh peserta bersama-sama mengucapkan doa panjang sambil menghadap kiblat. Langit yang cerah tanpa sebaris awan seolah menjadi saksi akan harapan yang diutarakan oleh setiap individu yang hadir. Semoga Dataran Engku Putri, yang telah menjadi simbol perjuangan dan harapan bagi masyarakat Batam, kali ini juga menjadi tempat di mana doa-doa rakyat terkabulkan dan kota ini segera terbebas dari kekeringan yang mengancam.

(SjR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *