Harapan untuk Mohammad Abizar: Perjuangan Bocah 18 Bulan di Lampung Tengah Menuju Kesembuhan

Lampung27 Dilihat

 

LAMPUNG TENGAH — Di balik senyum polosnya orang tua Mohammad Abizar, bocah berusia 18 bulan asal RT 20 Dusun 4 Kampung Sidokerto, Kecamatan Bumi Ratu Nuban, Kabupaten Lampung Tengah, tengah berjuang melawan kondisi kesehatannya. Hingga kini, Abizar masih belum mampu berjalan seperti anak seusianya dan membutuhkan perhatian serta penanganan kesehatan yang berkelanjutan.

Anak kedua pasangan Sarisun dan Hadijah yang lahir di Metro pada 27 Agustus 2024 itu terlahir normal dengan berat badan 3 kilogram. Namun dalam perjalanan tumbuh kembangnya, keluarga menghadapi berbagai keterbatasan ekonomi dan kondisi kesehatan anak yang cukup sensitif, termasuk alergi terhadap makanan tertentu.

Menurut keterangan keluarga, Abizar mengalami reaksi alergi ketika sang ibu mengonsumsi telur maupun ikan. Meski demikian, pihak bidan desa mengaku selama ini terus memberikan edukasi kepada keluarga terkait pola makan dan kesehatan anak.

“Memang benar anaknya alergi dan kami terus memberikan edukasi kepada ibunya,” ujar Bidan Desa Sidokerto saat dikonfirmasi, Jumat (15/05/2026).

 

Terkait layanan kesehatan, sempat muncul kekhawatiran dari keluarga mengenai status BPJS yang dianggap masih mandiri atau berbayar. Namun setelah dilakukan pengecekan oleh pihak Puskesmas Wates, BPJS Mohammad Abizar disebut telah aktif sebagai PBI (Penerima Bantuan Iuran) atau BPJS gratis dari pemerintah.

Kepala Puskesmas Wates melalui pesan singkat menjelaskan bahwa pengajuan BPJS gratis tersebut sebenarnya telah diproses sejak beberapa bulan lalu.

“Ini saya cek di Pandawa, BPJS-nya aktif PBI. Berarti pengajuan dari bidan desa ke Dinkes sudah aktif,” jelasnya.

 

Bidan Desa Sidokerto juga menambahkan bahwa pengajuan BPJS gratis untuk Abizar telah dilakukan sejak sekitar setengah tahun lalu dan saat ini statusnya sudah aktif.

Kondisi keluarga Abizar yang tinggal di kawasan dekat kebun karet dengan akses jalan terbatas juga menjadi perhatian warga sekitar. Di tengah keterbatasan ekonomi, orang tua Abizar tetap berharap anak mereka bisa mendapatkan pengobatan yang maksimal agar tumbuh sehat dan dapat berjalan normal seperti anak-anak lainnya.

Kini, harapan besar tertuju pada perhatian bersama, baik pemerintah daerah, tenaga kesehatan, maupun para dermawan agar Mohammad Abizar segera mendapatkan pendampingan kesehatan dan pemenuhan gizi yang lebih baik.

“Yang kami harapkan hanya anak kami bisa berobat, sehat, dan segera sembuh,” ungkap keluarga penuh harap.

 

Kisah Mohammad Abizar menjadi pengingat bahwa perhatian, kepedulian, dan gotong royong sangat dibutuhkan agar setiap anak Indonesia dapat tumbuh sehat dan memperoleh masa depan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *