“Jangan Jadi Guru, Nak” Curahan Hati di Facebook, Potret Buram Nasib Pendidik Hari Ini

Artikel66 Dilihat

Nasional  —  Sebuah unggahan di media sosial Facebook bertajuk “Jangan Jadi Guru, Nak” mendadak menyentuh nurani banyak pihak. Tulisan bernada getir itu menjadi cermin keras realitas dunia pendidikan saat ini, di mana profesi guru tak lagi sekadar soal panggilan jiwa, melainkan penuh risiko dan ancaman.

Dalam unggahan tersebut, penulis menggambarkan bahwa menjadi guru hari ini adalah keberanian menghadapi berbagai risiko, mulai dari risiko hukum, sosial, hingga keselamatan diri. Guru yang seharusnya menjadi pilar pembentuk karakter justru berada di posisi paling rentan.

“Memegang jidat siswa bukan untuk melukai, tetapi untuk memeriksa kesehatan, bisa berujung penjara bertahun-tahun dengan ancaman denda fantastis,” tulisnya.

Unggahan itu menyoroti berbagai kasus yang kerap mencuat ke publik. Guru yang berniat mendisiplinkan demi membentuk karakter siswa, justru dipidanakan. Bahkan, tidak jarang keluarga guru ikut terseret ke pusaran masalah hukum.

Ironisnya, ketegasan guru dalam menegakkan norma sekolah pun kerap berbuah petaka. Dalam beberapa kasus, guru justru menjadi korban kekerasan, dikeroyok oleh siswa yang seharusnya mereka didik.

“Kini dunia seolah terbalik. Pendidik menjadi pesakitan, sementara pelanggar aturan kerap kebal hukuman,” tulis akun tersebut.

Sekolah yang idealnya menjadi ruang aman untuk mendidik, digambarkan telah berubah menjadi “ladang ranjau” bagi para guru. Setiap kata, sentuhan, dan keputusan selalu dibayangi rasa takut. Guru tidak lagi fokus mendidik, melainkan sibuk melindungi diri agar selamat dari jerat hukum dan tekanan sosial.

Akibat kondisi ini, disiplin mulai dihindari, teguran dihapus, dan nilai-nilai moral perlahan diredam. Pendidikan pun kehilangan ruhnya. Krisis akhlak kian nyata, ditandai dengan meningkatnya kekerasan verbal dan fisik siswa terhadap guru serta runtuhnya otoritas pendidik.

Menurut penulis, runtuhnya wibawa guru bukan karena kelalaian guru, melainkan kegagalan sistem dalam memberikan perlindungan dan keadilan. Ketika guru tidak dilindungi, pesan yang sampai ke siswa menjadi jelas: aturan bisa ditawar, guru bisa dilawan.

“Karena sudah tak ada lagi rasa aman mendidik di sekolah. Keberpihakan negara menjadi abu-abu. Guru terus dibiarkan sendirian,” tulisnya menutup unggahan dengan kalimat yang sama, “Jangan jadi guru, nak”, tegasnya.

Sebagai awak media, kami memandang unggahan ini bukan sekadar curahan hati, melainkan alarm keras bagi dunia pendidikan. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka yang terancam bukan hanya para guru, tetapi masa depan generasi bangsa itu sendiri. Ironis memang!!!. Rabu, 28/01/2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed