Batam – Menawarkan paduan sempurna antara keindahan alam yang asri, pelestarian warisan leluhur, dan ruang pembelajaran yang menyenangkan, kawasan Lembah Pelawan kini menjelma menjadi destinasi unggulan sekaligus kebanggaan masyarakat Kepulauan Riau. Pada Kamis (4/6/2026), sejumlah awak media berkesempatan menyambangi lokasi untuk melihat langsung bagaimana konsep pariwisata yang berkelanjutan diterapkan di tempat ini.
Begitu tiba, pengunjung langsung disambut oleh suasana sejuk di bawah rindangnya pepohonan serta lingkungan yang tertata rapi dan bersih. Di bagian utama kawasan berdiri megah Saung Budaya Lembah Pelawan, yang menjadi jantung dari berbagai aktivitas pelestarian budaya sekaligus pusat pembelajaran bagi anak-anak dan generasi muda.
Asisten Manager Lembah Pelawan, Rudy, menjelaskan bahwa pendirian Saung Budaya merupakan wujud nyata komitmen pihak pengelola untuk melestarikan kekayaan budaya bangsa, khususnya yang tumbuh dan berkembang di tanah Kepulauan Riau.
“Saung Budaya ini kami bangun bukan sekadar untuk pertunjukan semata, melainkan sebagai tempat menjaga warisan leluhur sekaligus sarana edukasi yang menarik bagi generasi muda. Hingga saat ini, tercatat sudah sekitar 30 sekolah yang bergabung dan rutin mengikuti program pembelajaran budaya yang kami selenggarakan. Bahkan, bisa dikatakan konsep seperti ini adalah satu-satunya yang ada di seluruh Provinsi Kepulauan Riau,” ujar Rudy kepada awak media.
Lebih lanjut ia menambahkan, Lembah Pelawan tidak hanya dikenal sebagai tempat wisata alam biasa. Keunggulan konsep yang mengedepankan unsur edukasi, budaya, dan pelestarian lingkungan membuat tempat ini dipercaya menjadi lokasi penyelenggaraan berbagai kegiatan penting yang melibatkan kementerian dan lembaga pemerintah tingkat pusat.
“Banyak kegiatan dari kementerian dan instansi pemerintah memilih diselenggarakan di sini karena mereka melihat konsep yang kami tawarkan tidak sekadar bersenang-senang, tetapi mengandung nilai-nilai positif dan mendidik. Kami memang ingin menjadikan Lembah Pelawan sebagai ruang belajar yang menyenangkan, di mana orang-orang bisa mendapatkan pengetahuan sambil menikmati keindahan alam,” tambahnya.
Kawasan ini secara resmi diresmikan oleh Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam, Ardhi Winata, tepat pada tanggal 7 Juli 2025. Sejak saat itu, perkembangannya terus menunjukkan kemajuan yang pesat dan mendapatkan dukungan luas dari berbagai kalangan, mulai dari dunia pendidikan, komunitas pecinta budaya, hingga para pemerhati lingkungan hidup.
Dalam kesempatan yang sama, berlangsung pula diskusi santai namun penuh makna antara Rudy dengan Ketua Forum Wartawan Republik Nusantara (FRN) DPW Kepulauan Riau, Eliazer Simanjuntak. Ia menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas dedikasi pengelola yang telah menciptakan ruang yang sangat bermanfaat bagi masyarakat luas.
“Saya sangat mengapresiasi langkah yang diambil oleh pengelola Lembah Pelawan. Tempat ini sungguh istimewa, karena bukan sekadar objek wisata untuk dikunjungi sesaat, melainkan telah menjelma menjadi pusat edukasi budaya dan lingkungan yang memberikan manfaat nyata. Di sini, anak-anak tidak hanya bermain, tetapi juga belajar mengenal akar budayanya, menghargai alam sekitar, serta memahami kembali nilai-nilai kearifan lokal yang perlahan mulai tergerus derasnya arus modernisasi,” ujar Eliazer.
Ia menilai capaian yang berhasil diraih, yaitu telah menjalin kerja sama dengan sekitar 30 sekolah, merupakan sebuah keberhasilan luar biasa yang patut dibanggakan sekaligus didukung sepenuhnya.
“Ketika mendengar bahwa sudah ada puluhan sekolah yang bergabung, tentu ini adalah kabar yang sangat menggembirakan. Ini membuktikan bahwa masih banyak pihak yang sadar dan peduli akan pentingnya pendidikan karakter berlandaskan budaya. Hal ini tentunya wajib mendapat dukungan penuh dari pemerintah, tenaga pendidik, maupun seluruh lapisan masyarakat agar manfaatnya semakin meluas,” tegasnya.
Menurut Eliazer, konsep yang memadukan tiga unsur utama—wisata alam, pelestarian budaya, dan pendidikan—merupakan model pengembangan pariwisata yang tepat, berkelanjutan, dan layak untuk ditiru oleh daerah-daerah lain.
“Saya melihat potensi yang sangat besar di sini. Konsep yang diusung sangat unik dan jarang ditemukan di tempat lain. Harapan saya ke depannya, semakin banyak kegiatan berskala nasional bahkan internasional yang memilih diselenggarakan di sini. Sehingga nama Lembah Pelawan, Kota Batam, dan Kepulauan Riau pun semakin dikenal dan dihormati di tingkat yang lebih luas,” pungkasnya.
Kunjungan media yang berlangsung dalam suasana hangat dan kekeluargaan itu diakhiri dengan kesepakatan bersama untuk terus bersinergi memperkenalkan keunggulan Lembah Pelawan kepada khalayak yang lebih luas. Keberadaan kawasan ini membuktikan bahwa kemajuan pariwisata tidak harus mengorbankan kelestarian alam dan warisan budaya. Sebaliknya, keduanya justru dapat berjalan beriringan dan saling memperkuat.
Di tengah derasnya perubahan zaman, Lembah Pelawan hadir sebagai oase harapan—tempat di mana budaya dijaga sebagai identitas bangsa, dan alam dilestarikan sebagai warisan kehidupan. Sebuah bukti nyata bahwa menjaga keduanya berarti menjaga masa depan yang cerah bagi generasi yang akan datang.
( SjR )









