Batam, Jumat 20 Maret 2026, 18:30 WIB –
Sang surya perlahan tenggelam di ufuk barat, menyisakan semburat merah keemasan yang memeluk langit Batam. Tepat pukul 18:30 WIB, seusai azan Maghrib berkumandang syahdu dari setiap masjid dan mushalla di kota ini, suasana berubah menjadi sakral. Lantunan takbir Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha illallah Allahu Akbar bergema bertalu-talu, memecah keheningan malam. Itu adalah tanda berakhirnya bulan suci Ramadan dan panggilan suci untuk menyambut 1 Syawal—hari kemenangan, di mana kita semua dipanggil untuk kembali ke fitrah, bersih dari noda, dan penuh kasih sayang.
Suara takbir itu membawa kembali kenangan manis masa lalu: obor bambu yang dinyalakan satu per satu, menyinari jalanan desa dan kota dengan cahaya hangat yang penuh harapan. Anak-anak berlarian tertawa, orang tua tersenyum damai, dan kebersamaan terasa begitu kental. Namun, di tengah gemuruh takbir dan kegembiraan yang melanda—saat kita sibuk berbalas ucapan selamat, menikmati hidangan lezat, dan berkumpul hangat dengan keluarga—ada rintihan yang terdengar samar, namun sangat menyayat hati di hadapan Allah SWT.
Bayangkanlah, wahai saudaraku. Di sudut-sudut kota dan desa yang terpencil di Batam ini, ada wajah-wajah polos yang memandang langit dengan harapan yang tulus. Seperti anak laki-laki ini, yang dengan mata terpejam dan tangan terangkat, berdoa dengan penuh kekhusyukan. Atau gadis kecil berhijab merah muda ini, yang duduk dengan tenang, tangannya tergenggam dalam doa, seolah menyampaikan segala kerinduan dan keinginan hatinya kepada Yang Maha Mendengar.
Mereka adalah representasi dari anak-anak yatim dan keluarga miskin yang masih terjebak dalam kesulitan—tidak memiliki tempat berteduh layak, makanan cukup, dan kasih sayang orang tua. Dengan suara lembut namun penuh kesedihan, doa mereka terdengar:
“Wahai Ayah dan Ibu, ke manakah kami harus pergi? Ke manakah kami harus berteduh saat hujan turun dan angin bertiup kencang? Di mana kami bisa mendapatkan makan dan minum layaknya anak-anak seusia kami yang masih dipeluk dan disayangi orang tuanya? Wahai Allah, Engkau Maha Mengetahui kesedihan yang tersimpan di dalam hati kami.”
Rintihan itu adalah panggilan langsung dari hati yang tulus. Panggilan yang tidak boleh kita abaikan sebagai umat beragama yang percaya akan pertanggungjawaban di akhirat. Setiap tetes air mata yang jatuh dari mata mereka adalah saksi di hadapan Allah—saksi kesedihan mereka, dan saksi apakah kita hadir untuk menghapusnya atau membiarkannya terus mengalir.
Pesan dari Hj. Marlina Harahap:
“Wahai saudaraku seiman, malam takbiran ini bukan hanya waktu untuk bergembira dan melantunkan takbir. Ini adalah momen untuk kita membuka mata dan hati melihat sekitar. Lihatlah anak-anak yatim yang duduk dengan penuh harapan di sudut masjid, lihatlah keluarga-keluarga miskin yang masih berjuang untuk sekadar mengisi perut di hari yang suci ini. Menyayangi mereka bukan sekadar amal kebajikan, melainkan kewajiban kita sebagai manusia yang beriman. Ingatlah, setiap senyum yang kita berikan, setiap suapan makanan yang kita bagikan, dan setiap pelukan hangat yang kita berikan kepada mereka adalah cara kita mencintai Allah dan Rasul-Nya. Jangan biarkan kesenangan duniawi membuat kita lupa akan penderitaan sesama. Mari kita jadikan Idul Fitri ini sebagai awal dari kepedulian yang abadi, di mana tidak ada satu pun anak yatim yang merasa kesepian, dan tidak ada satu pun fakir miskin yang merasa terpinggirkan. Karena kebahagiaan kita tidak akan sempurna jika ada saudara kita yang masih menangis dalam kesedihan.”
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Insan ayat 8-9:
“Dan mereka memberi makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan, karena (ingin) mendekatkan diri kepada Allah, (sambil berkata): ‘Sesungguhnya kami hanya mengharapkan pahala dari Tuhan kami, kami tidak mengharapkan balasan dan ucapan terima kasih dari kamu semua.'”
Nabi Muhammad SAW pun bersabda dalam hadis riwayat Imam Bukhari dengan penuh kelembutan:
“Aku dan orang yang memelihara anak yatim akan berada di surga seperti ini,” sambil beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya yang berdekatan.
Sebaliknya, Allah juga memberikan peringatan tegas dalam Surah Al-Ma’un ayat 1-3:
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”
Wahai saudaraku, harta yang kita miliki hanyalah titipan Allah. Itu tidak akan bisa dibawa ke kubur, tidak akan menolong kita di hari kiamat, kecuali jika kita gunakan untuk kebaikan—termasuk menyantuni anak yatim dan membantu orang miskin. Menyantuni mereka bukan sekadar amal biasa, melainkan kewajiban agama yang membersihkan harta dan hati kita, serta mendekatkan diri kepada-Nya.
Di malam takbiran yang indah ini, mari kita renungkan sejenak: Apakah kebahagiaan hari raya kita akan terasa sempurna jika ada saudara kita yang masih menangis dalam kelaparan dan kesendirian? Apakah takbir yang kita lantunkan akan terdengar indah di hadapan Allah jika hati kita tertutup rapat dari penderitaan mereka?
Mari kita buka hati dan tangan kita seluas-luasnya. Bantuan itu tidak harus selalu berupa harta yang besar. Sekeping roti, sehelai pakaian, atau bahkan sekadar senyuman tulus dan kata-kata menenangkan—semuanya akan dicatat sebagai amal saleh di sisi Allah SWT.
Mari kita jadikan Idul Fitri ini sebagai momen untuk menyalakan kembali obor kepedulian di hati kita. Obor yang tidak hanya menyinari jalanan kota dan kampung, tetapi juga menyinari kehidupan mereka yang sedang berada dalam kegelapan kesulitan. Mari kita pastikan tidak ada satu pun saudara kita di Batam maupun di mana pun yang merasa terpinggirkan, lapar, atau sendirian.
Ingatlah, setiap senyum yang kita berikan kepada anak yatim adalah obat bagi kesedihan mereka, dan setiap suapan makanan yang kita berikan kepada orang miskin adalah penenang bagi rasa lapar mereka. Semua itu tidak akan sia-sia. Di hari kiamat nanti, amal-amal itulah yang akan menjadi pelindung kita dan penolong kita untuk memasuki surga-Nya yang penuh rahmat.
Semoga Allah SWT membuka hati kita semua, memberikan keberanian untuk berbagi, dan menjadikan kita umat yang selalu peduli terhadap sesama, terutama mereka yang lemah. Semoga Allah mengangkat kesedihan dari hati anak-anak yatim dan keluarga miskin, memberikan mereka kebahagiaan dan kecukupan.
Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita semua bisa menjadi pelita bagi mereka yang sedang membutuhkan cahaya di tengah kegelapan.
(SjR.Aek Kapesong)












