Lampung Tengah — Kondisi jembatan swadaya masyarakat yang menghubungkan Dusun 4 Kampung Sidokerto, Kecamatan Bumi Ratu Nuban, dengan RW 5 Kecamatan Trimurjo, Kabupaten Lampung Tengah, kini memprihatinkan. Pondasi jembatan dilaporkan ambles dan mengalami retakan yang cukup mengkhawatirkan sehingga membahayakan pengguna jalan, terutama kendaraan roda empat yang membawa muatan. Peristiwa ini diketahui pada Minggu, 31 Mei 2026.

Jembatan yang dibangun secara gotong royong oleh masyarakat sejak tahun 1990 tersebut selama ini menjadi akses alternatif vital bagi warga dua kecamatan. Selain digunakan sebagai jalur aktivitas harian masyarakat, jembatan juga menjadi lintasan anak-anak sekolah serta jalur distribusi hasil pertanian dari sawah dan ladang warga.
Ironisnya, meskipun kondisi kerusakan telah berulang kali ditinjau oleh sejumlah pejabat, hingga saat ini belum terlihat adanya realisasi pembangunan maupun perbaikan permanen.
Warga khawatir jika kerusakan terus dibiarkan, jembatan dapat mengalami keruntuhan yang lebih parah dan mengancam keselamatan pengguna jalan.
“Hampir siang dan malam jalan ini ramai dilalui masyarakat. Banyak warga memilih melintas di sini karena dianggap lebih aman dibanding jalan penghubung Sidokerto–Adipuro yang terdapat kawasan bulak dan dikenal rawan. Jangan sampai menunggu ada korban baru dilakukan penanganan,” ujar Hartoyo, warga setempat, kepada awak media.
Menurut warga, ukuran jembatan saat ini memiliki panjang sekitar 4 meter dengan lebar 2,20 meter. Namun melihat perkembangan kebutuhan transportasi masyarakat, pembangunan baru dinilai perlu dilakukan dengan spesifikasi yang lebih memadai, yakni panjang sekitar 6 meter dan lebar 4 meter agar mampu menyesuaikan dengan volume kendaraan yang melintas.
Masyarakat meminta BPBD Lampung Tengah, BPBD Provinsi Lampung, serta instansi terkait segera turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan dan langkah penanganan darurat sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Kerusakan infrastruktur ini dinilai bukan hanya menghambat aktivitas ekonomi warga, tetapi juga berpotensi mengancam keselamatan para pelajar, petani, dan masyarakat umum yang setiap hari bergantung pada akses penghubung tersebut.
“Jangan tunggu korban berjatuhan, segera lakukan tindakan nyata untuk menyelamatkan akses dan keselamatan masyarakat”, tegas warga.












