Pasca Dibongkar, Masih Diteror! Pedagang Tanjung Uncang Lapor Intimidasi ke Polisi

Batam149 Dilihat

Batam,Intinews.com – Jeritan hati pedagang kecil di kawasan depan PT Wasco, Tanjung Uncang, akhirnya meledak. Baru saja merasakan pahitnya pembongkaran lapak tempat menggantungkan hidup, mereka justru masih harus menghadapi tekanan dan teror yang membuat nyali ciut. Tak tahan lagi, rombongan pedagang akhirnya memutuskan membawa kasus ini ke ranah hukum dengan melaporkan dugaan intimidasi ke Polsek Batu Aji.

Aksi ini dilakukan pada Selasa, 5 Mei 2026 sekitar pukul 11.00 WIB. Dipimpin Andi Jaya, Ketua Asosiasi Pedagang Kaki Lima sekaligus Ketua LSM Bahtera DPP Kepri, mereka datang ke kantor polisi dengan membawa segunung keluhan. Turut mendampingi memberikan perlawanan hukum adalah kuasa hukum mereka, Marihot Sidauruk, S.H., CPM., CPA., serta aktivis sosial Naning Herawati, sebagai bukti bahwa perjuangan ini tidak sendirian.

Para pedagang mengaku, rasa sakit akibat hilangnya tempat usaha belum sembuh, justru ditambah dengan ancaman yang terus membayang. Pasca peristiwa pembongkaran, mereka mengclaim masih mendapatkan tekanan dari pihak tidak bertanggung jawab. Suasana mencekam ini membuat mereka tidak berani kembali berdagang, seolah-olah jalan hidup mereka benar-benar ingin ditutup total.

Laporan resmi tersebut diterima oleh Tari, anggota Kasium Polsek Batu Aji. Namun momen yang memberikan secercah harapan terjadi saat rombongan bertemu langsung dengan Kapolsek Batu Aji, AKP Bayu Rizki Subagyo, di depan ruang Kanit Intelkam. Berbeda dari kesan kaku yang sering dibayangkan, Kapolsek justru menyambut dengan sikap santai namun penuh perhatian, dan bersedia mendengarkan langsung setiap unek-unek yang disampaikan.

Tak hanya sekadar mendengar, Kapolsek langsung memberikan solusi konkret sebagai bentuk respon cepat. “Untuk jangka pendek, saya instruksikan personel patroli rutin kelokasi. Intinya, semua keluhan bapak ibu akan kami tampung dan proses sesuai aturan yang berlaku,” tegasnya.

Di sisi lain, kuasa hukum Marihot Sidauruk tak tinggal diam. Ia memberikan peringatan keras bagi pihak-pihak yang berani bermain kotor. “Kalau ini benar ada praktik premanisme yang menindas rakyat kecil, ini tidak boleh dibiarkan. Negara tidak boleh kalah, hukum harus tegak berdiri melindungi warganya!” ucapnya dengan nada tegas dan penuh semangat.

Mewakili rekan-rekannya, Andi Jaya meluapkan kekecewaan yang sudah memuncak. “Kami ini cuma orang kecil yang cari makan halal. Tapi kalau setiap hari dihantui rasa takut, ditekan sana-sini, bagaimana kami bisa hidup? Kami minta perlindungan nyata. Jangan sampai hukum tunduk pada kekuatan yang bermain di lapangan,” serunya.

Suara hati yang sama juga disampaikan aktivis Naning Herawati yang melihat persoalan ini dari sisi kemanusiaan. “Ini bukan sekadar soal tanah atau lapak, ini soal hak hidup dan martabat. Jangan sampai masyarakat kecil terus menjadi korban tekanan. Harus ada jaminan mereka bisa beraktivitas dengan tenang,” tandasnya.

Kini, mata dan harapan para pedagang tertuju pada langkah nyata aparat. Mereka ingin membuktikan, bahwa di negeri ini, hukum dan keadilan tetap berpihak kepada siapa saja, tanpa memandang status sosial. Kasus ini pun menjadi bukti nyata, bahwa di balik gemerlapnya pembangunan, masih ada suara rakyat kecil yang terus berjuang menuntut keadilan.

(SjR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *