Rotasi Lagi, Rotasi Lagi! Wali Kota Metro Diminta Buktikan Ini Bukan Sekadar Geser Kursi

Lampung114 Dilihat

Metro  —  Pemerintah Metro kembali melakukan rolling jabatan. Sejumlah pejabat dan pegawai dipindahkan, diputar, dan ditempatkan pada posisi baru dalam struktur birokrasi.

 

Di atas kertas, kebijakan ini terdengar ideal: penyegaran organisasi, peningkatan kinerja, dan optimalisasi pelayanan publik. Namun publik tentu tak lagi cukup hanya dengan narasi normatif.

 

Pertanyaannya sederhana: ini benar penyegaran, atau sekadar pergeseran kursi?

 

Rotasi jabatan seharusnya menjadi momentum memperkuat kualitas birokrasi. Aparatur yang kompeten ditempatkan di posisi strategis, yang lemah dievaluasi, dan yang berprestasi diberi ruang lebih besar. Tapi jika pola yang terjadi hanya “itu-itu saja”, maka rotasi justru berpotensi menjadi rutinitas tanpa makna.

 

Masyarakat kini semakin kritis. Mereka bisa melihat, menilai, bahkan merasakan langsung dampak dari kebijakan seperti ini. Pelayanan publik yang lambat, program yang tak tepat sasaran, hingga birokrasi yang terkesan berputar di tempat semua menjadi indikator apakah rolling ini berhasil atau gagal.

 

Di sisi lain, Wali Kota punya tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa setiap keputusan benar-benar berbasis kompetensi, integritas, dan kinerja, bukan sekadar kedekatan atau kepentingan tertentu.

 

Jika tidak, maka rotasi hanya akan menjadi seremoni administratif—ramai di awal, tapi minim perubahan di lapangan.

 

Publik tidak butuh sekadar rotasi. Publik butuh hasil.

 

Kini, bola ada di tangan Pemerintah Kota Metro. Apakah rolling kali ini benar-benar membawa perubahan nyata, atau hanya mengulang pola lama dengan wajah berbeda?

 

Waktu yang akan menjawab. Namun satu hal pasti: masyarakat akan terus mengawasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *