RUKUN BUDAYE KITE”: FKUB Kepri Rumus Kearifan Lokal Pengikat Kerukunan Umat Beragama

Batam113 Dilihat

Tanjungpinang — Rabu, 21 Oktober 2026

Forkom Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Kepulauan Riau menggelar Workshop Perumusan “Rukun Budaye Kite” di Tanjungpinang pada Rabu (21/10/2026). Kegiatan ini menjadi langkah konkret untuk mengangkat kearifan lokal menjadi nilai bersama dalam memperkuat budaya kerukunan umat beragama di seluruh wilayah Kepri.

Kegiatan yang didanai melalui Dana Hibah FKUB Provinsi Kepri Tahun 2026 ini diikuti sekitar 100 peserta. Mereka mewakili berbagai elemen masyarakat, mulai dari unsur pemerintah daerah, lembaga keagamaan, budayawan, hingga tokoh masyarakat dan kalangan akademisi.

Peningkatan Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) Kepri menunjukkan hasil yang sangat menggembirakan. Dari capaian 67,11 pada periode 2021–2025, angka tersebut melonjak signifikan menjadi 83,68 pada tahun 2025. Pencapaian ini menempatkan Kepri dalam jajaran provinsi dengan tingkat kerukunan tertinggi di Indonesia.

Di atas capaian tersebut, lahirlah gagasan “Rukun Budaye Kite”. Kata kite yang berarti “kita” dalam bahasa Melayu setempat, sengaja dipilih untuk menegaskan bahwa menjaga kedamaian bukan tanggung jawab satu pihak saja, melainkan tugas kolektif seluruh masyarakat tanpa memandang perbedaan.

Forum ini dirancang sebagai ruang dialog yang terbuka dan demokratis. Para peserta diajak menyamakan persepsi tentang makna kerukunan yang hidup di tengah masyarakat Kepri, sekaligus merancang model edukasi yang relevan dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Hasil perumusan dalam workshop ini nantinya akan disusun menjadi dokumen rekomendasi kebijakan strategis. Dokumen tersebut diharapkan dapat diadopsi oleh pemerintah daerah, khususnya dalam penyelenggaraan pendidikan dan penguatan kehidupan sosial kemasyarakatan di tingkat akar rumput.

Rangkaian acara dimulai sejak pagi hari dengan prosesi registrasi peserta. Pembukaan berlangsung khidmat, diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan lantunan Sholawat Busyro yang menyentuh hati seluruh hadirin.

Doa dibacakan oleh K.H. Imran Effendi Hasibuan, M.A. Selanjutnya, Ketua Panitia Pelaksana, H. Abu Sufyan, S.Ag., M.Pd.I., menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan sekaligus menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya acara ini.

Momen pembukaan juga dimeriahkan dengan pemutaran video kaleidoskop “Rukun Budaye Kite”. Tak hanya itu, kegiatan ini sekaligus menjadi ajang apresiasi bagi para pemenang Sayembara Konten Kerukunan yang telah menunjukkan kreativitas dalam menyebarkan pesan-pesan perdamaian melalui media digital.

Gubernur Kepulauan Riau, H. Ansar Ahmad, S.E., M.M., hadir langsung memberikan sambutan utama sekaligus membuka workshop secara resmi. Dalam pidatonya, beliau menekankan bahwa keberagaman yang dimiliki Kepri adalah kekayaan yang harus dijaga, bukan dijadikan sumber perpecahan.

Gubernur Ansar juga mengingatkan tantangan baru yang muncul di era digital. Penyebaran berita bohong dan ujaran kebencian di media sosial dinilai sebagai ancaman nyata yang mampu meretakkan kerukunan dalam waktu singkat. Oleh karena itu, literasi informasi menjadi sangat penting bagi seluruh lapisan masyarakat.

Lebih jauh, Gubernur menegaskan bahwa kondusivitas daerah adalah kunci utama pembangunan ekonomi. Posisi Kepri yang berada di jalur strategis internasional menjadikan kedamaian sebagai modal paling berharga. “Tanpa rasa aman dan damai, sebesar apa pun potensi yang kita miliki tidak akan berarti,” ujarnya.

Bukti nyata terlihat dari pertumbuhan ekonomi Kepri yang kini mencatatkan angka tertinggi di wilayah Pulau Sumatra, disertai penurunan angka kemiskinan yang konsisten. Kemajuan ini diyakini tak lepas dari suasana damai yang terjaga antarwarga selama ini.

Sesi diskusi berlangsung sangat kaya gagasan. Sesi pertama menghadirkan narasumber berkualitas: Gubernur Kepri bersama Pakar Kebijakan Publik Lembaga Administrasi Negara Yogi Suwarno, S.IP., M.A., Ph.D., dan akademisi budayawan Prof. Dr. H. Abdul Malik, M.Pd. Sesi kedua diisi oleh Kepala Kanwil Kemenag Kepri, Kepala Badan Kesbangpol, dan Ketua FKUB Provinsi Kepri.

Kegiatan ditutup pada sore hari dengan perumusan bersama dan penandatanganan dokumen rekomendasi “Rukun Budaye Kite”. Dokumen ini menjadi komitmen bersama bahwa di Kepri yang majemuk, persatuan dan kerukunan akan selalu menjadi pondasi utama dalam melangkah ke masa depan yang lebih sejahtera.

( SjR )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *