Kudus — Seorang pelajar SMK di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menjadi sorotan publik setelah mengaku mengalami intimidasi secara virtual usai mengirim surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto.
Peristiwa ini mencuat pada Rabu, 8 April 2026, setelah unggahan terkait kejadian tersebut viral di media sosial, khususnya Facebook melalui akun dan tagar seperti #MBG dan #melihatindonesia, yang dipenuhi ribuan komentar, like, dan dibagikan oleh warganet.
Baca juga berita sebelumnya!!! 👇👇👇
Suara Tulus dari Bangku SMK: Saat Seorang Siswa Memilih Gurunya Lebih Sejahtera daripada Jatah MBG-nya
Kritik Berujung Ancaman
Siswa bernama Muhammad Rafif Arsya Maulidi, yang diketahui merupakan pelajar kelas XI jurusan Desain Komunikasi Visual, mengungkapkan dirinya menerima pesan ancaman melalui DM Instagram dari akun tak dikenal.
Ia menyebut isi pesan tersebut mengandung intimidasi dan ujaran kebencian dari seseorang yang mengaku memiliki “bekingan”.
“Saya dapat pesan di Instagram, isinya ancaman dari seseorang yang mengaku punya bekingan, tetapi saya merasa saya tidak bersalah,” ujar Arsya.
Arsya sebelumnya mengirim surat terbuka kepada Presiden, berisi penolakan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta usulan agar anggarannya dialihkan untuk meningkatkan kesejahteraan guru.
Ia menduga ancaman tersebut berasal dari oknum yang terkait dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), penyedia makanan dalam program MBG di sekolahnya.
Pemerintah Daerah Turun Tangan
Menanggapi kasus ini, Kepala Dinas Sosial P3AP2KB Kudus, Putut Winarno, memastikan bahwa pihaknya akan memberikan perlindungan kepada Arsya.
“Menyampaikan pendapat itu tidak masalah. Saya lihat anak tersebut memang kritis,” ungkapnya.
Dinas Sosial juga telah menugaskan unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) untuk melakukan pendampingan, guna memastikan keamanan dan kondisi psikologis siswa tersebut tetap terjaga.
Viral di Media Sosial, Netizen Terbelah
Unggahan terkait intimidasi yang dialami Arsya langsung menuai beragam reaksi dari warganet. Banyak yang memberikan dukungan atas keberaniannya menyampaikan pendapat, namun tak sedikit pula yang memperdebatkan isi kritiknya terhadap program MBG.
Beberapa komentar netizen yang ramai diperbincangkan di Facebook antara lain:
Dukungan terhadap keberanian siswa:
“Terima kasih nak, sudah peduli. Guru memang sering terabaikan, padahal jasanya besar.”
Kritik terhadap intimidasi:
“Negara ini mau jadi apa kalau kritik saja diancam?”
Usulan alternatif kebijakan:
“Lebih baik anggaran MBG dialihkan ke beasiswa dan pendidikan gratis.”
Kekhawatiran kondisi negara:
“Kalau anak-anak saja sudah diintimidasi, bagaimana masa depan demokrasi kita?”
Namun, terdapat pula komentar yang bersifat spekulatif dan belum terverifikasi, termasuk tudingan terhadap pihak tertentu sebagai pelaku intimidasi.
Sorotan Publik: Kritik Harus Dilindungi
Kasus ini kembali memicu perdebatan publik mengenai pentingnya kebebasan berpendapat, terutama bagi generasi muda. Banyak pihak menilai bahwa kritik yang disampaikan secara santun seharusnya dihargai, bukan dibungkam dengan ancaman.
Pengamat sosial menilai, jika intimidasi terhadap pelajar dibiarkan, hal tersebut dapat menghambat perkembangan pola pikir kritis dan keberanian generasi muda dalam menyuarakan aspirasi.
Fenomena yang terjadi di Kudus ini menjadi cerminan dinamika demokrasi di era digital. Keberanian seorang pelajar dalam menyampaikan gagasan seharusnya menjadi ruang dialog, bukan berujung tekanan.
Publik kini menanti langkah tegas aparat dalam mengusut dugaan intimidasi tersebut, sekaligus memastikan bahwa ruang kebebasan berpendapat tetap terjaga bagi seluruh warga negara, termasuk pelajar.









