Metro — Ketegangan memuncak di tengah keramaian Pasar Kopindo, Kelurahan Imopuro, Kecamatan Metro Pusat, Kota Metro, Selasa (14/4/2026) sekitar pukul 10.20 WIB. Perselisihan yang melibatkan dua pria bersaudara ini berubah menjadi aksi brutal berdarah yang menggegerkan warga dan pedagang setempat.
Korban berinisial D.E. (51) dan terduga pelaku T.F.J. (61) diketahui memiliki hubungan keluarga. Namun, konflik internal yang tak terselesaikan berubah menjadi ledakan emosi di ruang publik. Berdasarkan informasi di lokasi, korban lebih dulu mendatangi pelaku dengan amarah, bahkan sempat melakukan penyerangan menggunakan tangan kosong hingga mengeluarkan senjata tajam.
Situasi yang memanas membuat terduga pelaku bereaksi cepat. Dalam kondisi terdesak, ia mengambil sebilah golok milik pedagang di sekitar lokasi dan melakukan perlawanan. Bentrokan tak terhindarkan. Dalam hitungan detik, darah tumpah korban mengalami dua luka serius di kepala dan luka parah di bagian telinga hingga nyaris terputus.
Jeritan warga dan kepanikan pun pecah di tengah pasar. Insiden ini sontak menarik perhatian banyak orang dan membuat aktivitas pasar lumpuh seketika.
Petugas dari Polres Metro yang menerima laporan segera bergerak cepat. Dipimpin KA SPKT IPTU Hendra Riswanda bersama PAMAPTA II IPDA Rendra Kasih Setiawan, aparat langsung mengamankan lokasi, mengevakuasi korban ke RSU Ahmad Yani Metro, serta mengamankan barang bukti berupa golok dan topi milik pelaku.
Tak butuh waktu lama, terduga pelaku langsung digiring ke Polsek Metro Pusat. Kini, kasus tersebut resmi masuk ranah hukum dan tengah dalam proses penyidikan intensif.
Kasat reskrim IPTU Rizky Dwi Cahyo, S. Tr. K,. SIK, MH mewakili Kapolres Metro, AKBP Hangga Utama Darmawan, S.I.K., menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mentolerir aksi kekerasan dalam bentuk apa pun.
“Ini bukan sekadar konflik keluarga, ini sudah menjadi tindak pidana serius. Kami pastikan proses hukum berjalan tegas, profesional, dan tanpa kompromi,” tegasnya.
Pihak kepolisian saat ini masih mendalami motif utama di balik konflik berdarah tersebut, termasuk memeriksa sejumlah saksi dan berkoordinasi dengan tim medis terkait kondisi korban.
Peristiwa ini menjadi peringatan keras bahwa konflik pribadi, sekecil apa pun, jika dibiarkan membara, dapat berubah menjadi tragedi yang berujung pada jeratan hukum. Di Pasar Kopindo hari itu, amarah bukan hanya melukai—tetapi juga menyeret dua keluarga ke dalam pusaran hukum yang tak terhindarkan.











