Batam, Senin, 6 April 2026 – Sebuah kisah inspiratif dan memotivasi tersaji dalam sebuah pertemuan santai yang berlangsung di Cafe Morning Bakery, kawasan Kepri Mall. Di tengah aroma kopi yang mengepul dan suasana yang akrab, terungkap kisah perjalanan hidup yang luar biasa dari seorang advokat yang kini disegani, Rahmad Sukri Hasibuan, S.H., M.H.
Siapa sangka, sosok yang kini menyandang gelar Magister Hukum dan bergerak di dunia advokasi ini dulunya hanyalah seorang pengemudi. Ia mengawali perjuangannya dari balik setir mobil saat mendampingi masa kampanye sang mentor, Ir. Syafrial Siregar, S.E., M.M. Namun, berkat tekad baja, kerja keras, dan bimbingan yang tepat, nasibnya kini telah berubah seratus delapan puluh derajat menjadi seorang intelektual di bidang hukum.
Dalam obrolan santai tersebut, suasana berubah menjadi hangat sekaligus sarat makna mendalam saat Syafrial Siregar memberikan petuah berharga. Sosok yang dikenal tegas dan penuh visi ini menekankan bahwa pendidikan adalah kunci utama untuk membuka gerbang kesuksesan.
“Pendidikan itu bukan sekadar formalitas atau syarat administratif semata. Itu adalah senjata paling ampuh untuk mengubah hidup seseorang. Namun, senjata ini hanya akan berguna bagi mereka yang benar-benar mau berjuang dan tidak mudah menyerah,” ujar Syafrial Siregar dengan nada tegas namun menyemangati.
Suara Haru: “Dulu Saya Hanya Sopir Beliau”
Mendengar nasihat tersebut, Rahmad Sukri Hasibuan yang duduk di hadapan mentornya tampak mengangguk tanda setuju. Dengan nada suara yang sedikit bergetar menyiratkan rasa haru, namun tetap tegas dan penuh percaya diri, ia pun membuka suara menceritakan perjalanan hidupnya yang penuh liku.
“Memang benar Pak. Dulu, beberapa tahun yang lalu saya hanyalah seorang sopir beliau saat masa kampanye. Saya mengantar ke sana ke mari. Tapi dari balik setir itulah saya belajar banyak tentang arti sebuah kerja keras, loyalitas, dan perjuangan yang tak kenal lelah. Berkat doa, dukungan, dan bimbingan dari beliau, perlahan namun pasti saya bisa menuntaskan pendidikan hingga akhirnya bisa menyandang gelar Sarjana Hukum (S.H.) dan kini Magister Hukum (M.H.),” ungkap Rahmad mengenang masa lalunya.
Dengan tatapan mata yang berbinar dan penuh keyakinan, Rahmad pun menambahkan pesan mendalam yang bernapaskan nilai-nilai spiritual, mengutip ungkapan hikmah yang sangat lekat di hatinya:
“Bagi saya, kesuksesan ini bukan semata karena kehebatan diri sendiri, tapi ini adalah bukti nyata dari kebenaran sabda hikmah Man Jadda Wa Jada. Siapa yang benar-benar bersungguh-sungguh, pasti akan mendapatkannya. Siapa yang berjuang dengan ikhlas dan berusaha sekuat tenaga, maka Allah akan memudahkan jalan-Nya. Tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Selama kita berpegang pada prinsip, berikhtiar maksimal, dan melibatkan Tuhan di setiap langkah, maka pintu kesuksesan itu pasti akan terbuka selebar-lebarnya, seberat apa pun tantangan awalnya.”
Kisah nyata ini seolah menjadi tamparan keras sekaligus suntikan semangat bagi siapa saja yang masih merasa ragu atau pesimis untuk mengubah nasibnya. Fakta bahwa seseorang yang dulunya berprofesi sebagai sopir kini mampu duduk sejajar sebagai sarjana hukum berpendidikan tinggi, membuktikan bahwa kesuksesan bukanlah soal kebetulan atau faktor keberuntungan semata.
Keberhasilan ini adalah buah dari ketekunan, tekad yang kuat, serta adanya arahan dari orang-orang yang tepat. Pertemuan di kafe itu pun menegaskan satu filosofi hidup yang sangat berharga: Jangan pernah meremehkan awal mula perjalanan seseorang, karena masa depan yang gemilang ditentukan oleh seberapa besar tekad dan kekuatan kita untuk terus berjuang.
Apa yang dialami oleh Rahmad Sukri Hasibuan menjadi bukti nyata bahwa sukses itu bukan milik mereka yang memiliki segalanya sejak awal, melainkan milik mereka yang tidak pernah menyerah dan terus berusaha mengubah mimpi menjadi kenyataan.
(SjR)







