Dipicu Dugaan Prostitusi & Sikap Arogan: Ratusan Warga Cikitsu Geruduk Penginapan RedDoorz

Batam133 Dilihat

Batam, 22 Juni 2026 – Suasana memanas menyelimuti kawasan Perumahan Cikitsu, Kecamatan Batam Kota. Ratusan warga berbondong‑bondong mendatangi lokasi penginapan RedDoorz Akumurah Inn pada Sabtu malam, 20 Juni 2026. Massa memenuhi badan jalan hingga menghambat lalu lintas dan menarik perhatian luas.

Keributan ini bukan tanpa alasan. Keresahan warga sudah menumpuk lama, mulai dari masalah akses hingga dugaan aktivitas yang melanggar norma kesusilaan.

Salah satu keluhan paling mendasar adalah soal parkir. Kendaraan tamu sering berjejer panjang hingga memakan separuh jalan, menyempitkan ruang gerak warga yang ingin keluar‑masuk perumahan.

Masalah air pun menjadi titik gesekan. Di tengah ketersediaan air bersih yang terbatas, pengelola diketahui membuat sumur bor secara sepihak semata untuk kebutuhan usaha komersial. Hal ini dinilai merugikan lingkungan sekitar.

Yang paling menggelisahkan adalah pola kedatangan tamu. Warga kerap melihat orang‑orang dengan identitas tak jelas berdatangan dan pergi pada jam‑jam yang tidak wajar.

Kecurigaan kian kuat mengarah pada praktik prostitusi terselubung. Sering terlihat perempuan berpakaian kurang sopan keluar dari penginapan pasca waktu salat subuh.

Pemandangan ini menimbulkan kegelisahan sosial. Warga merasa lingkungan tempat tinggal mereka terkontaminasi kebiasaan yang tidak mencerminkan keharmonisan keluarga.

Upaya damai sebenarnya sudah dilakukan. Perangkat RT dan RW sempat melayangkan teguran beberapa hari sebelumnya guna mencari jalan keluar.

Namun, respons pengelola justru memperparah situasi. Sikap arogan dan ucapan meremehkan aduan warga serta tantangan balik membuat kesabaran habis.

Kekecewaan terhadap sikap manajemen inilah yang akhirnya mendorong perangkat lingkungan mengajak warga turun ke jalan dalam jumlah besar.

Di tengah gelombang protes itu, muncul sosok yang mengintai dari jendela lantai tiga gedung penginapan. Pemandangan ini seolah menjadi pemicu tambahan yang menyulut emosi massa.

Warga menuntut kejelasan dan tindakan nyata. Mereka tidak lagi sekadar meminta perbaikan pelayanan, melainkan keberadaan usaha itu pun dipertanyakan dampaknya bagi lingkungan.

Hingga saat ini, belum ada penjelasan resmi dari pihak pengelola maupun instansi terkait terkait tuduhan yang disampaikan warga. Situasi pasca‑keributan pun masih dalam pantauan.

Kejadian ini menjadi pelajaran penting: keberlangsungan usaha di lingkungan pemukiman mutlak harus selaras dengan kenyamanan dan norma yang dipegang masyarakat sekitar.

( SjR )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *