JERITAN PEDAGANG KECIL! Tolak Relokasi ke Ruko Meski Ditawarkan Gratis 6 Bulan, Mereka Takut Gagal Bertahan Hidup

Batam85 Dilihat

Batam – Penolakan keras terhadap tawaran relokasi ke unit ruko bagi para pedagang kecil yang beroperasi di depan kawasan PT Sigma Aurora Property semakin menguat dan mendapat dukungan bulat dari seluruh rekan seperjuangan. Meskipun Pemerintah Kota Batam melalui Wakil Wali Kota, Ibu Li Claudia Chandra, telah menawarkan solusi berupa penyediaan ruko secara gratis selama enam bulan, namun usulan ini ditolak dengan tegas oleh para pedagang. Mereka mengaku belum sanggup menerima skema tersebut karena dihantui ketidakpastian masa depan dan beban hidup yang akan mengancam kelangsungan keluarga mereka.

Penolakan tersebut telah dituangkan secara resmi dalam surat pernyataan yang ditandatangani oleh perwakilan pedagang pada tanggal 13 Mei 2026. Melalui surat tersebut, mereka menegaskan bahwa sikap yang diambil bukanlah bentuk penolakan terhadap perhatian atau bantuan yang diberikan pemerintah. Sebaliknya, hal ini merupakan wujud kegelisahan mendalam dan rasa takut akan nasib buruk yang mungkin menimpa mereka dan keluarga akibat kebijakan yang dianggap tidak mempertimbangkan realitas kehidupan sehari-hari masyarakat kecil.

Takut Nasib Buruk Setelah Masa Bebas Sewa Berakhir
Sebagai perwakilan resmi para pedagang, Ketua Asosiasi Pedagang sekaligus Ketua LSM Bahtera DPP Kepri, Andi, menegaskan bahwa sikap mereka didasarkan pada pertimbangan yang matang dan realistis, bukan karena penolakan semata. Ia meminta pihak pemerintah tidak salah menafsirkan tindakan mereka.

“Jangan salah artikan sikap pedagang ini seolah mereka menolak niat baik pemerintah. Kami sangat menghargai perhatian dan kepedulian yang diberikan oleh Ibu Wakil Wali Kota Li Claudia Chandra. Kami mengucapkan terima kasih atas segala upaya yang sudah dilakukan. Namun, persoalannya sangat sederhana dan menyentuh hati: meski enam bulan biaya sewa dan operasional ditanggung secara gratis, apa yang akan terjadi setelah masa itu berakhir? Dari mana mereka akan mendapatkan uang untuk membayar sewa, listrik, air, dan biaya lainnya? Ingatlah, para pedagang ini hidup dari hasil jualan hari ini untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga hari ini juga. Tidak ada cadangan, tidak ada tabungan, dan tidak ada kekayaan yang bisa diandalkan,” tegas Andi dengan nada penuh keseriusan.

Takut Kehilangan Sumber Penghidupan
Kerinduan akan tempat berjualan yang sudah menjadi bagian dari hidup mereka terungkap jelas melalui pernyataan para pedagang. Salah satunya adalah Roida Hutabarat, yang menyampaikan ketakutan mendalam jika harus meninggalkan lokasi yang selama ini menjadi sumber kehidupan keluarganya.

“Ibu Li, kami ini adalah orang-orang kecil yang hidup dari keringat sendiri. Kami sama sekali tidak berniat melawan atau menentang aturan. Kami hanya takut sekali jika harus dipindahkan ke tempat baru yang belum tentu memiliki pembeli yang banyak. Di tempat inilah kami bisa membeli beras, membayar tagihan listrik, dan membiayai sekolah anak-anak kami. Kalau kami gagal bertahan di tempat baru itu, apa yang akan kami lakukan? Bagaimana kami bisa memberi makan keluarga kami? Bagaimana kami bisa membiayai kebutuhan hidup sehari-hari? Kami takut itu semua akan runtuh hanya karena satu keputusan,” ucapnya dengan suara lirih dan penuh haru.

Rasa takut dan kekhawatiran yang sama juga dirasakan oleh Renta Uli Sitinjak, yang menyoroti ketidaksiapan mereka dalam mengikuti pola usaha yang berbeda dan lebih besar di dalam ruko. Dengan mata berkaca-kaca, ia memohon agar pemerintah bisa memahami kondisi kehidupan mereka yang sangat sederhana dan terbatas.

“Bukan kami tidak mau menerima niat baik Ibu Li, kami sangat berterima kasih. Tapi kami ini sudah terbiasa menjalankan usaha dengan cara sederhana, apa adanya, dan sesuai dengan kemampuan yang kami miliki. Kalau harus masuk ke dalam ruko, kami takut sekali. Kami takut tidak sanggup menanggung biaya operasional yang jauh lebih mahal, takut tempat baru itu sepi pembeli, dan akhirnya kami malah terpaksa menutup usaha sama sekali. Bagi kami, berpindah tempat usaha bukanlah perkara yang mudah dan ringan. Yang kami dapat hari ini, itulah yang kami gunakan untuk makan malam ini. Kadang jualan ramai, kadang sepi, tapi setidaknya di sini kami masih bisa bernapas dan berjuang. Kalau dipindahkan ke tempat yang kami sendiri belum yakin akan nasibnya, rasanya seperti disuruh melangkah masuk ke dalam kegelapan yang tak terlihat ujungnya,” tuturnya penuh kepasrahan namun tetap berharap ada jalan keluar.

Solusi Harus Berpihak pada Kemanusiaan
Renta menegaskan bahwa bagi masyarakat kecil seperti dirinya dan rekan-rekan pedagang lainnya, kebijakan penataan kota dan pembangunan kawasan harus tetap mempertimbangkan sisi kemanusiaan dan kelangsungan hidup warga yang paling rentan. Ia memohon agar para pemangku kepentingan tidak hanya melihat persoalan dari sudut pandang penataan tata ruang atau keindahan kota semata, tetapi juga melihat sisi kehidupan nyata dari mereka yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah.

“Kami cuma meminta satu hal: berikan kami kesempatan untuk tetap bisa bekerja dan mencari nafkah dengan tenang, tanpa harus dihantui ketakutan bahwa besok atau lusa kami tidak akan bisa membawa pulang uang untuk anak-anak dan keluarga kami. Ini bukan sekadar soal di mana kami berdiri dan membuka lapak. Ini adalah soal bertahan hidup kami sebagai manusia kecil yang berjuang demi keluarga,” pungkasnya.

Saat ini, seluruh harapan para pedagang tertumpu pada Pemerintah Kota Batam. Mereka berharap pemerintah mau membuka ruang dialog yang lebih luas, mendalam, dan menyeluruh untuk mencari jalan keluar yang benar-benar adil, realistis, dan berpihak pada keberlangsungan hidup usaha kecil serta kesejahteraan masyarakat.

(SjR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *