Masjid Pinggir Jalan Ini Jadi Surga Kecil Bagi Ribuan Musafir, Setiap Subuh Penuh Sesak Jamaah

Batam250 Dilihat

Hutapuli, Jumat 24 April 2026 – Bayangkan perjalanan ribuan kilometer, badan pegal, mata sayu, hati lelah menempuh jalan berliku dan sunyi. Di tengah segala kepenatan itu, tiba-tiba dari kejauhan tampak menara menjulang dengan lampu yang menyala terang. Seperti oase di tengah gurun, itulah Masjid Baiturrahman Hutapuli—sebuah keajaiban di pinggir jalan yang kini menjadi legenda dan tempat sakral yang selalu dinanti-nanti oleh siapa saja yang melintasi jalur lintas Sumatera.

Terletak di Lorong Satu Aek Kapesong, Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, masjid ini berdiri kokoh tepat di sisi jalan utama. Posisi strategisnya dan arsitekturnya yang megah membuatnya tak mungkin terlewatkan. Bagi para penumpang bus ALS rute Medan–Jakarta dan sebaliknya, melihat siluet masjid ini dari balik kaca jendela adalah pertanda: “Istirahat sebentar lagi, sebentar lagi kita bertemu tempat yang menenangkan.”

Yang paling luar biasa terjadi setiap menjelang Subuh. Saat dunia masih terlelap, saat lampu jalan mulai redup, di sini justru hidup dan berdenyut semangat. Ribuan musafir dari berbagai suku, daerah, dan latar belakang berdatangan. Deretan kendaraan berbaris rapi, halaman penuh, hingga ruang salat sesak dipenuhi jamaah. Suara azan berkumandang memecah kesunyian, mengubah tempat persinggahan biasa menjadi lautan iman yang memukau. Di sini, rasa capek akibat berguncang berjam-jam di atas kendaraan seketika lenyap, digantikan oleh kedamaian yang menyelimuti sekujur tubuh dan jiwa.

Namun di balik kemegahan dan keramaiannya, tersimpan kisah pengorbanan dan amanah mulia. Masjid ini berdiri berkat visi besar dan perjuangan keras almarhum H. Edi Hasan Nasution. Beliaulah orang yang berinisiatif, mengerahkan segala daya dan upaya, mewujudkan mimpi agar para pelintas jalan memiliki tempat berteduh dan beribadah. Beliau membangunnya bukan untuk kehormatan diri, tapi semata-mata untuk kemaslahatan umum, dan hingga kini warisan kebaikan itu terus mengalir memberi manfaat tak terkira.

Dan agar obor kebaikan itu tak pernah padam, hadirlah sosok Raden Hasibuan. Sebagai tokoh agama sekaligus pengurus, ia telah menjaga dan merawat masjid ini dengan sepenuh jiwa dan raga selama bertahun-tahun. Baginya, mengurus rumah Allah adalah kehormatan tertinggi, dan melayani setiap orang yang datang adalah ibadah yang tak ternilai harganya.

Dalam wawancara eksklusif, Raden Hasibuan menceritakan kisah menyentuh hati ini, dengan nada suara yang sarat makna dan tanggung jawab:

“Dulu Almarhum H. Edi Hasan berpesan tegas kepada kami: ‘Bangunan ini bukan milik keluarga, bukan milik warga sini saja. Ini milik siapa saja yang lewat, yang butuh tempat beribadah, yang butuh berteduh dari panas dan hujan, bahkan yang cuma mau tidur sejenak hilangkan lelah. Jangan pernah tolak siapa pun, layani mereka sebaik-baiknya karena mereka adalah tamu Allah.’ Pesan itulah yang kami jadikan pedoman hidup sampai hari ini.”

Ia melanjutkan dengan mata berkaca, menceritakan suasana yang selalu membuatnya terharu setiap pagi:

“Bayangkan, jam 03.00 atau 04.00 dini hari kami sudah datang, nyalakan lampu, bersihkan tempat wudhu, pastikan air mengalir lancar. Lalu perlahan mereka datang, satu per satu, berbondong-bondong. Ada yang pegang tas berat, ada yang gendong anak, ada yang wajahnya pucat kelelahan. Tapi begitu masuk masjid, lihat saja perubahannya… wajah mereka jadi cerah, senyum muncul, dan saat salat berjamaah, safnya rapat sampai ke teras dan halaman. Melihat itu, rasa lelah kami hilang seketika. Itu pahala yang tak bisa dihitung dengan uang, tak bisa dibeli dengan apapun.”

“Prinsip kami sederhana: tidak ada perbedaan di sini. Entah dia pejabat, pengusaha, buruh, atau anak rantau, semuanya sama, semuanya tamu. Warga sini pun ikut bergerak, gotong royong. Ada yang sediakan air minum, ada yang bawa gorengan atau kue untuk dibagikan cuma-cuma. Itulah budaya kami, berbagi adalah nafas hidup masyarakat Aek Kapesong,” tegasnya.

Keberadaan masjid ini pun menjadi cerminan sejati karakter warga Desa Aek Kapesong. Hidup dengan semangat kebersamaan, menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, dan selalu mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Nilai-nilai inilah yang membuat masjid ini tak hanya bertahan, tapi tumbuh menjadi ikon kebaikan yang dikenal luas.

Bagi ribuan musafir, Masjid Baiturrahman bukan sekadar bangunan dari batu dan semen. Ia adalah penyelamat di tengah kepenatan, rumah kedua di perantauan, dan sumber kekuatan. Saat tubuh tak sanggup lagi bergerak, di sini mereka beristirahat; saat hati gelisah dan ragu, di sini mereka menemukan ketenangan.

Lebih dari sekadar persinggahan, masjid ini adalah bukti nyata bahwa kebaikan itu tak mengenal batas, dan secercah cahaya yang dinyalakan dengan ikhlas akan menerangi ribuan langkah orang lain. Sebuah warisan abadi, tempat di mana lelah menemukan tempat berlabuh, dan iman kembali menyala terang.

(NaJa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *