LAMPUNG TENGAH — Tangis pilu pasangan Sarisun dan Hadijah seakan tak pernah berhenti melihat kondisi buah hati mereka, Mohammad Abizar, yang hingga kini di usia 18 bulan belum mampu berjalan seperti anak seusianya. Bocah mungil kelahiran Metro, 27 Agustus 2024 itu hidup dalam kondisi memprihatinkan di tengah himpitan ekonomi dan keterbatasan akses kesehatan.

Abizar lahir secara normal dengan berat badan 3 kilogram. Namun sejak kecil, keluarga mengaku mengalami berbagai kesulitan, mulai dari tidak memiliki BPJS hingga akhirnya hanya mampu mendapatkan BPJS reguler kelas 3 dalam kondisi anak sudah mengalami dugaan stunting.
Kesedihan keluarga semakin bertambah karena Abizar memiliki alergi cukup berat. Sang ibu mengaku setiap kali dirinya mengonsumsi telur ataupun ikan, kondisi anaknya langsung terganggu. Dalam keterbatasan ekonomi, orang tua Abizar terus berusaha mencari cara demi kesembuhan anak kedua mereka tersebut.
“Sudah berbagai cara kami lakukan supaya anak kami bisa sehat dan berjalan normal,” ujar orang tuanya dengan mata berkaca-kaca.
Kondisi tempat tinggal keluarga ini pun jauh dari kata layak. Mereka tinggal di RT 20 Dusun 4 Kampung Sidokerto, Kecamatan Bumi Ratu Nuban, Kabupaten Lampung Tengah, di kawasan dekat kebun karet milik orang lain dengan akses jalan yang sulit dilalui. Di tengah keadaan ekonomi yang serba kekurangan, kebutuhan hidup sehari-hari saja sulit terpenuhi, apalagi untuk memenuhi kebutuhan gizi dan pengobatan sang anak.
Jeritan keluarga kecil ini kini menjadi potret nyata masih adanya warga yang luput dari perhatian. Sangat miris, di saat pemerintah terus menggencarkan program kesehatan ibu dan anak, masih ditemukan ibu hamil yang diduga tidak terpantau secara maksimal hingga anak lahir dan tumbuh dalam kondisi memprihatinkan.

Warga berharap pemerintah daerah, dinas kesehatan, dan pihak terkait segera turun langsung ke lokasi melihat kondisi sebenarnya yang dialami Mohammad Abizar dan keluarganya. Bantuan kesehatan, perhatian gizi, hingga BPJS gratis sangat diharapkan agar bocah tersebut mendapatkan penanganan yang layak sebelum kondisinya semakin memburuk.
“Jangan sampai jeritan rakyat kecil hanya menjadi cerita tanpa solusi. Anak ini butuh pertolongan nyata,” ungkap warga sekitar penuh harap.
Awak media telah berupaya melakukan konfirmasi kepada bidan desa serta berusaha memperoleh nomor telepon Kepala Puskesmas Wates. Namun hingga berita ini diturunkan pada Jumat, 15 Mei 2026, belum ada penjelasan resmi dari pihak terkait.













