Bandar Lampung — Sepenggal kisah haru datang dari dua kadet asal Palestina yang tengah menempuh pendidikan di Indonesia. Di tanah Lampung, mereka akhirnya merasakan sesuatu yang selama ini hanya menjadi angan-angan: kebebasan menyentuh laut tanpa bayang-bayang konflik.
Ahmad Omar Almiawi dan Mahmoud Qubaja, dua kadet Universitas Pertahanan asal Palestina, mendapat undangan khusus dari Pangdam XXI/Radin Inten. Kunjungan itu bukan sekadar agenda seremonial, melainkan pengalaman emosional yang membuka mata tentang arti kedamaian.
Perjalanan mereka berlanjut ke Pulau Pahawang, Kabupaten Pesawaran. Di hadapan laut biru yang tenang, Ahmad mengungkapkan pengakuan yang menyayat hati. Seumur hidupnya, ia baru pertama kali berenang di laut.
Pengakuan itu menjadi cermin pahit realitas di tanah kelahiran mereka, di mana akses ke pesisir kerap terhalang tembok dan pos penjagaan.
Di Lampung, keduanya tidak hanya berenang. Mereka merasakan ruang gerak tanpa rasa takut, menginap di tepi pantai, serta menikmati suasana damai yang jauh dari hiruk-pikuk konflik.
Pengalaman tersebut semakin lengkap ketika mereka mengunjungi vihara saat perayaan Imlek. Di sana, kedua kadet menyaksikan langsung kehidupan masyarakat yang rukun dalam perbedaan keyakinan. Rumah ibadah berdiri berdampingan, dan ucapan selamat lintas agama menjadi pemandangan yang lumrah.
Tak hanya itu, mereka juga dikenalkan pada budaya Lampung yang menjunjung tinggi falsafah “nemui nyimah”, tradisi memuliakan tamu dengan ketulusan. Sambutan hangat masyarakat membuat keduanya merasa seperti menemukan keluarga baru di negeri perantauan.
Ahmad dan Mahmoud merupakan bagian dari puluhan mahasiswa Palestina penerima beasiswa penuh dari Pemerintah Indonesia. Sejak akhir 2024, mereka meninggalkan keluarga untuk menempuh pendidikan di bidang strategis seperti kedokteran, teknik, dan farmasi sebagai bekal membangun kembali negeri mereka.
Kunjungan ke Lampung bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan pelajaran hidup tentang toleransi, persaudaraan, dan arti kedamaian. Dari pesisir Pahawang hingga rumah-rumah ibadah yang berdiri berdampingan, mereka menemukan harapan bahwa suatu hari nanti, kedamaian yang mereka rasakan di Indonesia juga bisa hadir di tanah Palestina.












