Satu kontainer MV Golden Star 1 hanyut sampai Belakang Padang, 99 lainnya masih hilang dan dicari

Batam244 Dilihat

Batam – Tenggelamnya kapal kargo MV Golden Star 1 di jalur pelayaran internasional Selat Malaka dan Selat Singapura pada Jumat (5/6/2026) malam meninggalkan masalah serius yang belum selesai hingga kini. Dari sebanyak 107 kontainer yang jatuh ke laut bersamaan dengan tenggelamnya kapal, baru sekitar delapan unit yang berhasil ditemukan dan diamankan. Bahkan salah satunya diketahui terbawa arus hingga melayang jauh sampai ke perairan Belakang Padang, Batam.

Informasi ini dikonfirmasi langsung kepada intinews.com oleh Kasi Penegakan Hukum KSOP Khusus Batam pada Sabtu (6/6/2026). Ia membenarkan bahwa meski pencarian terus digencarkan, hasil yang diperoleh masih sangat minim dibandingkan jumlah keseluruhan muatan yang hilang.

“Jumlah yang sudah ditemukan kurang lebih delapan unit. Ya, benar, satu di antaranya hanyut sampai di wilayah Belakang Padang, makanya masuk hitungan itu,” ujarnya tegas.

Sebelumnya, kapal MV Golden Star 1 dilaporkan mengalami keadaan darurat serius saat melintasi jalur Traffic Separation Scheme (TSS) — salah satu rute tersibuk dan terpenting di dunia untuk lalu lintas kapal internasional. Diduga mengalami kebocoran di bagian lambung, kapal itu akhirnya tak dapat dipertahankan dan perlahan tenggelam ke dasar laut bersama seluruh muatan yang dibawanya. Beruntungnya, kesembilan awak kapal sempat diselamatkan oleh tim pertolongan dalam keadaan selamat tanpa ada korban jiwa.

Penyelamatan dilakukan dengan cepat oleh tim patroli laut KSOP Khusus Batam yang menggunakan Kapal Negara KN P-376, bergerak secepat kilat menuju titik kejadian segera setelah menerima laporan darurat sekitar pukul 21.30 WIB. Namun setelah awak kapal aman, tantangan baru yang jauh lebih besar pun muncul: bagaimana mengamankan ratusan kontainer yang berserakan di tengah laut.

Kini fokus utama bergeser sepenuhnya ke pencarian dan pengamanan kontainer tersebut. KSOP Khusus Batam telah bekerja sama erat dengan Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PLP) Kelas II Tanjung Uban serta meminta bantuan aktif para nelayan setempat untuk ikut memantau dan melaporkan keberadaan benda asing yang terapung di laut.

“Kontainer yang sudah berhasil kami temukan langsung ditarik dan dikandaskan sementara di sekitar kawasan Pulau Putri, untuk menunggu keputusan langkah penanganan selanjutnya. Kami tidak boleh membiarkannya mengambang sembarangan,” jelas pejabat KSOP itu.

Namun angka yang ada saat ini masih sangat memprihatinkan. Jika baru delapan yang ditemukan, berarti masih ada sekitar 99 kontainer lain yang nasibnya belum diketahui dan terus dicari. Diduga kuat benda-benda besar itu tersebar luas dan terbawa arus menuju berbagai arah, termasuk semakin mendekati perairan Batam dan kepulauan sekitarnya.

Temuan satu kontainer yang sampai di Belakang Padang pun menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi otoritas maupun masyarakat. Pasalnya, wilayah tersebut bukanlah jalur kapal besar internasional, melainkan jalur yang sangat aktif dilalui oleh ribuan kapal nelayan, kapal penumpang antarpulau, dan perahu-perahu tradisional milik warga pesisir. Kontainer yang terapung, apalagi yang posisinya setengah tenggelam dan sulit terlihat, bagaikan “bom waktu” yang sewaktu-waktu bisa menabrak kapal dan menimbulkan kecelakaan parah bahkan korban jiwa.

Menyikapi risiko yang sangat nyata ini, Vessel Traffic Service (VTS) Batam terus-menerus menyiarkan peringatan keras melalui seluruh saluran komunikasi maritim. Seluruh nahkoda kapal, baik besar maupun kecil, diminta untuk meningkatkan kewaspadaan maksimal saat berlayar, dan melaporkan segera jika melihat benda mencurigakan di permukaan air.

Otoritas menegaskan bahwa langkah ini mutlak diperlukan. Sebab Selat Malaka dan Selat Singapura adalah urat nadi perdagangan dunia; gangguan sekecil apa pun bisa berdampak luas terhadap kelancaran ekonomi dan keselamatan ribuan nyawa manusia yang melintas setiap harinya.

Di sela-sela pencarian, tim penyelidik juga masih bekerja keras mengungkap akar penyebab sebenarnya kenapa kapal tersebut bisa mengalami kebocoran hingga akhirnya tenggelam. Semua dokumen pelayaran, catatan teknis kapal, serta keterangan lengkap dari para awak sedang dikumpulkan dan diperiksa dengan teliti.

KSOP Khusus Batam menegaskan bahwa penanganan insiden ini tidak akan berhenti sampai semuanya selesai. “Kami tidak hanya mencari kontainer, tapi juga memastikan apakah ada risiko pencemaran lingkungan laut dan bagaimana dampaknya bagi kehidupan masyarakat pesisir. Keselamatan pelayaran adalah tanggung jawab kita semua,” tegasnya.

Sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, menjaga keselamatan, keamanan, dan ketertiban di laut adalah kewajiban seluruh pihak yang terlibat. Peristiwa ini pun menjadi tamparan keras sekaligus pengingat bahwa pengawasan ketat dan penerapan standar keselamatan kapal harus terus diperketat, terutama untuk kapal yang melayari jalur strategis internasional.

Sampai berita ini diterbitkan, operasi pencarian masih terus digencarkan siang malam oleh tim gabungan. Tantangan terbesar tetap sama: melacak 99 kontainer yang hilang di tengah luasnya laut, sebelum terbawa lebih jauh, merusak lingkungan, atau menimpa keselamatan kapal-kapal lain yang sedang berlayar.

intinews.com akan terus memantau dan melaporkan setiap perkembangan terbaru yang diperoleh langsung dari otoritas maritim dan instansi berwenang, demi memberikan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas.

( SjR )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *