Batam, 5 April 2026 – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota besar yang serba cepat dan materialistis, seringkali kita melihat ironi yang menyayat hati. Banyak anak yang setelah sukses, memiliki jabatan, atau sibuk dengan dunianya sendiri, perlahan mulai menjauh. Kesibukan kerja, ambisi karir, dan urusan duniawi sering dijadikan alasan yang logis, hingga sosok-sosok yang dulu mengorbankan segalanya untuk membesarkan kita kini perlahan terlupakan di masa senjanya.
Namun, di tengah realitas yang mulai memudar itu, hadir sebuah kisah nyata yang menjadi cahaya pengingat. Kisah tentang seorang putra yang membuktikan bahwa setinggi apa pun seseorang terbang, ia tidak akan pernah melupakan tanah tempat ia berpijak. Ia adalah Rahmad Sukri Hasibuan, S.H., M.H., seorang advokat handal yang kini namanya mulai dikenal di kota metropolitan Batam.
Di balik kesuksesannya dan kesibukan mengurus berbagai perkara hukum, Rahmad menyimpan satu prinsip hidup yang tak pernah ia ingkari: Bakti kepada orang tua adalah prioritas utama yang tak bisa ditawar oleh apa pun.
“Saya Hanyalah Anak Seorang Petani”
Rahmad tidak lahir dari keluarga yang bergelimang harta. Ia tumbuh besar di sebuah dusun jauh, di mana kesehariannya dulu hanya berteman dengan sawah dan lumpur. Ayahnya adalah seorang petani sederhana yang bekerja keras membanting tulang, sementara ibunya merawat keluarga dengan penuh ketulusan.
Dari keterbatasan itulah ia dibesarkan.
“Saya adalah anak seorang petani yang dibesarkan di dusun. Setiap hari hanya berteman dengan lumpur,” ungkapnya dengan nada rendah hati namun penuh bangga.
Namun, dari lingkungan yang sederhana itu, ia dibekali dengan dua hal paling berharga di dunia: semangat kerja keras dan doa tulus dari orang tua. Berkat limpahan kasih sayang dan restu mereka, tangan yang pernah kotor oleh tanah itu kini mampu memegang buku hukum, memimpin, dan mengukir namanya di kota besar.
Kini, saat kehidupan telah memanjakannya dengan kemewahan dan kesuksesan, Rahmad tidak lupa membalas budi. Ia sadar betul, semua yang ia raih bukan semata-mata karena kecerdasannya, melainkan karena berkah doa kedua orang tuanya yang tak pernah putus.
Menjadikan Orang Tua sebagai “Raja” di Masa Tua
Bagi Rahmad, berbakti bukan sekadar mengirim uang atau memenuhi kebutuhan materi semata. Lebih dari itu, ia memahami bahwa di masa senja, orang tua justru membutuhkan kehadiran, perhatian, dan rasa dicintai layaknya anak kecil.
Di sela-sela jadwalnya yang padat, advokat ini selalu meluangkan waktu khusus. Ia menemani mereka berbicara, mendengarkan cerita lama mereka, memanjakan mereka, dan memastikan senyum selalu terukir di wajah mereka. Baginya, melihat orang tua bahagia adalah keberkahan yang tak bisa dibeli dengan uang berapapun.
“Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaanku. Ridha mereka adalah kunci kesuksesanku,” tegasnya.
Sikap mulia ini bukan hanya bentuk kasih sayang seorang anak, melainkan cermin dari keimanan yang kuat. Rahmad menegakkan apa yang telah diperintahkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an, Surah Al-Isra ayat 23:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua…”
Ayat suci ini menjadi landasan hidupnya. Bahwa berbuat baik kepada ibu dan ayah bukanlah sekadar pilihan moral, melainkan perintah Ilahi yang wajib dilaksanakan. Bahkan Rasulullah SAW pun menegaskan, “Ridha Allah terletak pada ridha orang tua, dan murka Allah terletak pada kemurkaan orang tua.”
Sebelum Penyesalan Menghampiri
Kisah Rahmad Sukri Hasibuan bagaikan tamparan lembut namun keras bagi kita semua. Ia mengingatkan bahwa waktu berjalan begitu cepat dan tidak akan pernah mau berputar kembali.
Seringkali kita berpikir, “Nanti saja, nanti kalau sudah sukses, nanti kalau sudah punya waktu.” Namun sayang, usia tua dan kematian tidak pernah menunggu kita siap.
Kisah ini berpesan: Jangan sampai kita baru sadar dan ingin memeluk mereka, saat tangan itu sudah dingin dan tak lagi bisa menggenggam. Jangan sampai kita baru ingin membahagiakan mereka, saat panggilan telepon itu tak lagi bisa dijawab.
Rahmad mengajarkan kita bahwa sukses sejati bukan hanya ketika kita bisa duduk di kursi empuk atau memiliki gelar tinggi, tetapi ketika kita mampu membawa orang tua kita ikut merasakan manisnya hasil keringat kita.
Surga itu tidak jauh di angkasa. Ia nyata, terhampar di bawah telapak kaki Ibu, dan tersimpan dalam senyum serta ridha seorang Ayah.
Mari kita renungkan, selagi mereka masih ada, selagi napas masih berhembus, masihkah kita menunda untuk berbakti?
(SjR)









